alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Waswas Gagal Panen, Petani di Jombang Berharap Solusi Konkret

JOMBANG – Banjir yang merendam ratusan hektare sawah di sejumlah desa di Kecamatan Kesamben bukan kali pertama. Hampir setiap tahun terjadi. Petani berharap pemkab punya solusi konkret.

Abdul Wahab ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben menuturkan, bukan kali ini lahan pertanian warga di Kecamatan Kesamben jadi jujukan genangan air. Hampir setiap musim hujan, puluhan hingga ratusan hektare sawah rusak akibat terendam banjir. ”Apalagi genangannya tidak hanya sehari dua hari, bahkan sampai seminggu, sehingga tanaman petani banyak yang rusak karena terlalu lama tergenang,” terang Wahab kepada Jawa Pos Radar Jombang, Minggu (16/1) kemarin.

Dari pengamatannya di lapangan, problem mendasarya ada pada saluran pembuang yang tidak maksimal, selain juga faktor tingginya curah hujan. ”Harapannya ketika ada air besar datang (sawah kebanjiran, Red), pembuangnya juga harus cepat,” kata Wahab

Dijelaskan, sepanjang belum ada solusi penanganan saluran buang, diperkirakan problem itu bakal terus menghantui petani setiap musim penghujan. ”Jadi, harus ada perbaikan di saluran pembuang. Karena kalau pengambilan (saluran pembawa, Red), Insya Allah aman,” imbuh dia.

Sebab menurut dia, kondisi saluran pembuang sebagian besar tak maksimal. Ketika air meluap, bakal nandon di lahan pertanian. ”Intinya ketika air datang, buangnya juga harus besar. Apakah itu saluran tersier, sekunder dan sebagainya kalau bisa diperbaiki lagi. Waktu banjir ini agak lama, itu karena pembuangnya ada masalah,” sambung Wahab.

Baca Juga :  Kesal Motornya Disalip, Dua Remaja di Jombang Keroyok Pemotor

Tak maksimalnya fungsi saluran pembuang, lanjut dia, semakin terlihat. Sebab, air yang membuat ratusan hektare sawah terendam juga berasal dari luapan pembuang atau afvoer. Terlebih wilayah setempat memiliki banyak afvoer yang muaranya berada di Afvoer Watudakon. ”Kondisi pembuang nggak muat, akhirnya lari ke sawah. Jangankan yang tersier atau sekunder, batas sawah saja kalau banjir sudah tidak kelihatan,” tutur dia.

Karena itu, dampak yang dirasakan tanaman petani rusak hingga harus tanam ulang. ”Alhamdulillah hari ini (kemarin, Red) mulai surut. Cuma, jelas ada yang sulam dan tanam ulang. Cuma kita juga waswas jika ada hujan susulan,” lanjut Wahab.

Kini para petani tak bisa berbuat banyak. Biaya operasional bakal membengkak, terlebih sekarang pasokan pupuk subsidi juga telat. ”Kalau pun ada bantuan benih yang siap tanam, kalau masih berupa gabah itu butuh proses. Paling tidak setengah bulan, jelas tanamnya telat,” kata Wahab.

Hal serupa diungkapkan Erton petani asal Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben. Dia pun mengeluhkan nasib lahan pertanian di wilayahnya selalu menjadi langganan genangan air. Akibatnya, tanaman petani yang baru memasuki masa tanam terancam rusak. Saat ini, sebagian besar tanaman padi di wilayahnya sudah berusia sekitar satu bulan lebih. ”Sekarang semuanya padi, terendam hampir satu minggu. Soalnya satu aliran mulai Jombatan, sehingga dampaknya sampai Carangrejo,” kata dia.

Baca Juga :  Uji Coba Jembatan Baru Ploso dengan Rambu Minim, Sebagian Pengendara Bingung

Kondisi sementara air sudah mulai surut. Namun, tak sedikit tanaman petani ikut terdampak. ”Nggak ada hujan dua hari ini aman. Mungkin karena usianya sudah satu bulan, jadi risiko rusaknya tidak tinggi. Kecuali yang baru saja tanam jelas pengaruh besar (rusak, Red),” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan hektera areal pertanian di wilayah Kecamatan Kesamben sudah hampir sepekan terendam banjir. Dari 241 hektar lahan yang terendam, sekitar 30 hektare tanaman padi yang tak bisa diselamatkan.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony mengatakan, sudah melakukan pendataan area sawah di Kecamatan Kesamben yang terendam banjir. ”Pantauan Jumat kemarin, tanaman usia satu dua minggu sudah tergenang empat sampai lima hari,” katanya dikonfirmasi, Sabtu kemarin (15/1). Hasil survey yang dilakukan, dari ratusan hektare sawah yang terendam itu tak semua bisa diselamatkan. ”Potensi puso kurang lebih 30 hektare,” imbuh dia.

Selain di Kecamatan Kesamben, sawah terendam juga terlihat di Kecamatan Megaluh. Namun tak separah di Kecamatan Kesamben. ”Di Desa Balongsari Kecamatan Megaluh kurang lebih 10 hektare, kondisi belum ada tanaman. Juga di Desa Sidomulyo kurang lebih 8 hektare, mulai persemaian,” tutur Rony.

- Advertisement -

JOMBANG – Banjir yang merendam ratusan hektare sawah di sejumlah desa di Kecamatan Kesamben bukan kali pertama. Hampir setiap tahun terjadi. Petani berharap pemkab punya solusi konkret.

Abdul Wahab ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben menuturkan, bukan kali ini lahan pertanian warga di Kecamatan Kesamben jadi jujukan genangan air. Hampir setiap musim hujan, puluhan hingga ratusan hektare sawah rusak akibat terendam banjir. ”Apalagi genangannya tidak hanya sehari dua hari, bahkan sampai seminggu, sehingga tanaman petani banyak yang rusak karena terlalu lama tergenang,” terang Wahab kepada Jawa Pos Radar Jombang, Minggu (16/1) kemarin.

Dari pengamatannya di lapangan, problem mendasarya ada pada saluran pembuang yang tidak maksimal, selain juga faktor tingginya curah hujan. ”Harapannya ketika ada air besar datang (sawah kebanjiran, Red), pembuangnya juga harus cepat,” kata Wahab

Dijelaskan, sepanjang belum ada solusi penanganan saluran buang, diperkirakan problem itu bakal terus menghantui petani setiap musim penghujan. ”Jadi, harus ada perbaikan di saluran pembuang. Karena kalau pengambilan (saluran pembawa, Red), Insya Allah aman,” imbuh dia.

Sebab menurut dia, kondisi saluran pembuang sebagian besar tak maksimal. Ketika air meluap, bakal nandon di lahan pertanian. ”Intinya ketika air datang, buangnya juga harus besar. Apakah itu saluran tersier, sekunder dan sebagainya kalau bisa diperbaiki lagi. Waktu banjir ini agak lama, itu karena pembuangnya ada masalah,” sambung Wahab.

Baca Juga :  DPPKB-PPPA Jombang Gelar Gertak Vaksinasi Keluarga

Tak maksimalnya fungsi saluran pembuang, lanjut dia, semakin terlihat. Sebab, air yang membuat ratusan hektare sawah terendam juga berasal dari luapan pembuang atau afvoer. Terlebih wilayah setempat memiliki banyak afvoer yang muaranya berada di Afvoer Watudakon. ”Kondisi pembuang nggak muat, akhirnya lari ke sawah. Jangankan yang tersier atau sekunder, batas sawah saja kalau banjir sudah tidak kelihatan,” tutur dia.

- Advertisement -

Karena itu, dampak yang dirasakan tanaman petani rusak hingga harus tanam ulang. ”Alhamdulillah hari ini (kemarin, Red) mulai surut. Cuma, jelas ada yang sulam dan tanam ulang. Cuma kita juga waswas jika ada hujan susulan,” lanjut Wahab.

Kini para petani tak bisa berbuat banyak. Biaya operasional bakal membengkak, terlebih sekarang pasokan pupuk subsidi juga telat. ”Kalau pun ada bantuan benih yang siap tanam, kalau masih berupa gabah itu butuh proses. Paling tidak setengah bulan, jelas tanamnya telat,” kata Wahab.

Hal serupa diungkapkan Erton petani asal Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben. Dia pun mengeluhkan nasib lahan pertanian di wilayahnya selalu menjadi langganan genangan air. Akibatnya, tanaman petani yang baru memasuki masa tanam terancam rusak. Saat ini, sebagian besar tanaman padi di wilayahnya sudah berusia sekitar satu bulan lebih. ”Sekarang semuanya padi, terendam hampir satu minggu. Soalnya satu aliran mulai Jombatan, sehingga dampaknya sampai Carangrejo,” kata dia.

Baca Juga :  Kesal Motornya Disalip, Dua Remaja di Jombang Keroyok Pemotor

Kondisi sementara air sudah mulai surut. Namun, tak sedikit tanaman petani ikut terdampak. ”Nggak ada hujan dua hari ini aman. Mungkin karena usianya sudah satu bulan, jadi risiko rusaknya tidak tinggi. Kecuali yang baru saja tanam jelas pengaruh besar (rusak, Red),” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan hektera areal pertanian di wilayah Kecamatan Kesamben sudah hampir sepekan terendam banjir. Dari 241 hektar lahan yang terendam, sekitar 30 hektare tanaman padi yang tak bisa diselamatkan.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony mengatakan, sudah melakukan pendataan area sawah di Kecamatan Kesamben yang terendam banjir. ”Pantauan Jumat kemarin, tanaman usia satu dua minggu sudah tergenang empat sampai lima hari,” katanya dikonfirmasi, Sabtu kemarin (15/1). Hasil survey yang dilakukan, dari ratusan hektare sawah yang terendam itu tak semua bisa diselamatkan. ”Potensi puso kurang lebih 30 hektare,” imbuh dia.

Selain di Kecamatan Kesamben, sawah terendam juga terlihat di Kecamatan Megaluh. Namun tak separah di Kecamatan Kesamben. ”Di Desa Balongsari Kecamatan Megaluh kurang lebih 10 hektare, kondisi belum ada tanaman. Juga di Desa Sidomulyo kurang lebih 8 hektare, mulai persemaian,” tutur Rony.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/