alexametrics
22.5 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Suspek PMK di Jombang Makin Banyak, Bupati Janji Maksimalkan Penanganan

JOMBANG – Bupati Jombang Mundjidah Wahab memantau sapi yang dinyatakan suspek penyakit kuku dan mulut (PMK) di Dusun Kedunglupis, Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang kemarin (15/5). Wabah PMK di Jombang kini meluas hingga tujuh kecamatan. Tercatat sedikitnya sebanyak 143 ekor sapi ditemukan suspek PMK.

Pantauan di lokasi tampak bupati didampingi kepala Dinas Peternakan Jombang Agus Susilo Sugioto memantau tiga ekor sapi yang suspek PMK di rumah Ali Mukti warga setempat. Bupati melihat kondisi sapi yang tampak loyo karena terjangkit PMK. Setelah berbincang dengan pemilik sapi, bupati kemudian memberikan bantuan obat dan vitamin untuk menangani PMK.

Bupati Mundjidah menyampaikan, usai melihat kondisi sapi di rumah Ali, ia memastikan kondisinya sudah berangsur membaik. ”Sudah mendapatkan penanganan, kondisinya sekarang sudah berangsur membaik,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang di lokasi.

Dijelaskan, wabah PMK penularannya sangat cepat. Namun pemkab sudah sigap dengan melakukan beberapa langkah penanganan dan pencegahan. Baik langkah secara langsung, yakni menangani sapi yang suspek PMK dan melakukan pencegahan dengan membatasi sapi yang masuk Jombang. ”Penanganan dan pencegahan sudah kita lakukan dengan maksimal. Untuk sapi yang sakit kita tangani dengan obat dan vitamin. Kemudian untuk langkah pencegahan bagi sapi yang dari kabupaten/kota yang tetular itu kita sisihkan,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  251 Hektare Sawah di Jombang Terendam

Data yang dihimpun dinas peternakan, jumlah sapi terjangkit PMK terus bertambah. Tercatat sedikitnya 143 ekor dari jumlah sebelumnya 110 ekor. Ratusan ekor sapi tersebut, tersebar di kecamatan Wonosalam, Tembelang, Mojowarno, Kabuh, Plandaan, Gudo dan Diwek. ”Data terakhir kami ada 143 ekor yang suspek PMK. Untuk kematian tetap 5 ekor anakan sapi,’’ ujar Agus Susilo Sugioto, Kadisnak Jombang.

Ditegaskan Agus, 143 sapi yang dinyatakan suspek penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah kecamatan berangsur pulih. Sejak diberikan penanganan sepekan ini, kondisinya mulai membaik. ”Sejak mulai kejadian ada PMK masuk Jombang tanggal 6 Mei kemarin, kami rutin berikan vitamin dan antibiotik, setelah 3–4 hari perawatan keadaan membaik dan mau makan,’’ ujar dia.

Agus menyebut, penanganan kasus sapi suspek PMK harus dilakukan dengan tindakan medis. ”Harus ada penanganan medis dari dokter hewan. Untuk itu, setiap hari teman-teman keliling membawa vitamin dan antibiotik ke daerah-daerah yang ada sapi suspeknya,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Sapi Suspek PMK di Jombang Jadi 224 Ekor, Tersebar di 9 Kecamatan

Dari total 143 sapi yang terindikasi PMK, Ia menegaskan sejauh ini masih dalam masa penanganan. Sesuai arahan dari pemerintah pusat, sapi yang sakit terindikasi PMK harus dilakukan isolasi atau masa inkubasi selama 14 hari. Selama itu pula harus dilakukan penangan medis dengan cepat dan tepat. ”Sampai saat ini belum ada yang sembuh total. Namun sebagian besar perkembangannya bagus, bahkan ada yang baru dua hari langsung mau makan,’’ tambahnya.

Selain dilakukan tindakan medis, Agus juga menyebut pemberian obat tradisional seperti jamu kunir, jahe, sere juga bisa dilakukan untuk sapi yang sakit. ”Ya bisa sehari 2-3 kali,’’ papar dia. Sementara itu, untuk mencegah penularan yang lebih masif pihaknya sudah melakukan beberapa langkah antisipasi. Di antaranya, melakukan skrining dengan ketat terhadap sapi yang akan masuk Jombang hingga penyemprotan disinfektan ke rumah potong hewan maupun pasar sapi di sejumlah titik. ”Kemarin ada bantuan dari BPBD provinsi membantu menyemprot disinfektan. Lalu ada juga bantuan disinfektan dari pusat dan provinsi untuk para peternak,’’ pungkasnya.






Reporter: Anggi Fridianto
- Advertisement -

JOMBANG – Bupati Jombang Mundjidah Wahab memantau sapi yang dinyatakan suspek penyakit kuku dan mulut (PMK) di Dusun Kedunglupis, Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang kemarin (15/5). Wabah PMK di Jombang kini meluas hingga tujuh kecamatan. Tercatat sedikitnya sebanyak 143 ekor sapi ditemukan suspek PMK.

Pantauan di lokasi tampak bupati didampingi kepala Dinas Peternakan Jombang Agus Susilo Sugioto memantau tiga ekor sapi yang suspek PMK di rumah Ali Mukti warga setempat. Bupati melihat kondisi sapi yang tampak loyo karena terjangkit PMK. Setelah berbincang dengan pemilik sapi, bupati kemudian memberikan bantuan obat dan vitamin untuk menangani PMK.

Bupati Mundjidah menyampaikan, usai melihat kondisi sapi di rumah Ali, ia memastikan kondisinya sudah berangsur membaik. ”Sudah mendapatkan penanganan, kondisinya sekarang sudah berangsur membaik,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang di lokasi.

Dijelaskan, wabah PMK penularannya sangat cepat. Namun pemkab sudah sigap dengan melakukan beberapa langkah penanganan dan pencegahan. Baik langkah secara langsung, yakni menangani sapi yang suspek PMK dan melakukan pencegahan dengan membatasi sapi yang masuk Jombang. ”Penanganan dan pencegahan sudah kita lakukan dengan maksimal. Untuk sapi yang sakit kita tangani dengan obat dan vitamin. Kemudian untuk langkah pencegahan bagi sapi yang dari kabupaten/kota yang tetular itu kita sisihkan,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Renungan Minggu 78: Jangan Sampai Pudar Semangatmu!

Data yang dihimpun dinas peternakan, jumlah sapi terjangkit PMK terus bertambah. Tercatat sedikitnya 143 ekor dari jumlah sebelumnya 110 ekor. Ratusan ekor sapi tersebut, tersebar di kecamatan Wonosalam, Tembelang, Mojowarno, Kabuh, Plandaan, Gudo dan Diwek. ”Data terakhir kami ada 143 ekor yang suspek PMK. Untuk kematian tetap 5 ekor anakan sapi,’’ ujar Agus Susilo Sugioto, Kadisnak Jombang.

Ditegaskan Agus, 143 sapi yang dinyatakan suspek penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah kecamatan berangsur pulih. Sejak diberikan penanganan sepekan ini, kondisinya mulai membaik. ”Sejak mulai kejadian ada PMK masuk Jombang tanggal 6 Mei kemarin, kami rutin berikan vitamin dan antibiotik, setelah 3–4 hari perawatan keadaan membaik dan mau makan,’’ ujar dia.

- Advertisement -

Agus menyebut, penanganan kasus sapi suspek PMK harus dilakukan dengan tindakan medis. ”Harus ada penanganan medis dari dokter hewan. Untuk itu, setiap hari teman-teman keliling membawa vitamin dan antibiotik ke daerah-daerah yang ada sapi suspeknya,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Dinsos Jombang Ajak 60 KPM PKH di Wonosalam Belajar Dampak Digitalisasi

Dari total 143 sapi yang terindikasi PMK, Ia menegaskan sejauh ini masih dalam masa penanganan. Sesuai arahan dari pemerintah pusat, sapi yang sakit terindikasi PMK harus dilakukan isolasi atau masa inkubasi selama 14 hari. Selama itu pula harus dilakukan penangan medis dengan cepat dan tepat. ”Sampai saat ini belum ada yang sembuh total. Namun sebagian besar perkembangannya bagus, bahkan ada yang baru dua hari langsung mau makan,’’ tambahnya.

Selain dilakukan tindakan medis, Agus juga menyebut pemberian obat tradisional seperti jamu kunir, jahe, sere juga bisa dilakukan untuk sapi yang sakit. ”Ya bisa sehari 2-3 kali,’’ papar dia. Sementara itu, untuk mencegah penularan yang lebih masif pihaknya sudah melakukan beberapa langkah antisipasi. Di antaranya, melakukan skrining dengan ketat terhadap sapi yang akan masuk Jombang hingga penyemprotan disinfektan ke rumah potong hewan maupun pasar sapi di sejumlah titik. ”Kemarin ada bantuan dari BPBD provinsi membantu menyemprot disinfektan. Lalu ada juga bantuan disinfektan dari pusat dan provinsi untuk para peternak,’’ pungkasnya.






Reporter: Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/