alexametrics
26.4 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

PMK Bikin Pedagang Sapi Pusing, Harga Turun, Pembeli Sepi

JOMBANG – Di sisi lain, merebaknya wabah PMK berdampak langsung pada penjualan sapi. Seperti pengakuan beberapa pedagang sapi di Pasar Wage Kabuh, Jumat kemarin (13/5). Mereka harus rela melepas sapi dengan harga lebih murah, pembeli sapi juga menurun.

“Setelah lebaran ini mulai banyak PMK, jadi makin susah  jualan sapi,” ucap Sudarji, 64, salah satu pedagang sapi di Pasar Wage. Menurutnya, sejak PMK merebak, banyak peternak sapi dan jagal yang khawatir saat membeli sapi. Hasilnya, jumlah pembeli merosot jauh. “Merosot sampai 55 persen lebih,” lanjutnya.

Padahal, seharusnya di bulan-bulan seperti sekarang, pembeli sapi biasanya sangat banyak karena menjelang Hari Raya Idul Adha. Harga sapi pun jatuh. Ia mencontohkan, sapi anakan atau pedhet yang biasanya bisa dijual Rp 8 juta, kini harus turun harga. “Sekarang paling mahal hanya Rp 7 juta pedhet betina,” imbuh pedagang sapi asal Tunggorono Jombang ini.

Baca Juga :  SMPN 6 Jombang Usung Program Gerakan Literasi Sekolah

Hal serupa juga dirasakan Giman, 54, yang mengaku sepekan ini harga sapi terus turun. Tingkat penurunannya cukup besar hingga Rp 1 juta. Giman yang biasa menjual sapi potong usia 9-10 bulan seharga Rp 11,5 juta, sekarang hanya Rp 10,5 juta. “Itupun yang beli sepi, padahal mau kurban biasanya ramai,” sambung dia.

Ia mengaku sudah sangat selektif memilih sapi yang dijual di pasar. Giman menyebut, seluruh sapi yang ia bawa juga dalam keadaan sehat. “Tapi banyak yang sudah terlanjur takut, mau bagaimana,” lontarnya.

Ia sendiri hingga kemarin sangat membatasai pasokan sapi yang akan dijual. Giman dan pedagang sapi lain, tak mau mendatangkan sapi dari luar kota. “Yang saya bawa seluruhnya sapi lokalan Jombang, karena tidak berani mengambil dari kota lain, takut bawa penyakit,” pungkas warga Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan ini.

Baca Juga :  Suspek PMK Makin Banyak, Dewan Minta Penanganan dan Pencegahan Dimaksimalkan
- Advertisement -

JOMBANG – Di sisi lain, merebaknya wabah PMK berdampak langsung pada penjualan sapi. Seperti pengakuan beberapa pedagang sapi di Pasar Wage Kabuh, Jumat kemarin (13/5). Mereka harus rela melepas sapi dengan harga lebih murah, pembeli sapi juga menurun.

“Setelah lebaran ini mulai banyak PMK, jadi makin susah  jualan sapi,” ucap Sudarji, 64, salah satu pedagang sapi di Pasar Wage. Menurutnya, sejak PMK merebak, banyak peternak sapi dan jagal yang khawatir saat membeli sapi. Hasilnya, jumlah pembeli merosot jauh. “Merosot sampai 55 persen lebih,” lanjutnya.

Padahal, seharusnya di bulan-bulan seperti sekarang, pembeli sapi biasanya sangat banyak karena menjelang Hari Raya Idul Adha. Harga sapi pun jatuh. Ia mencontohkan, sapi anakan atau pedhet yang biasanya bisa dijual Rp 8 juta, kini harus turun harga. “Sekarang paling mahal hanya Rp 7 juta pedhet betina,” imbuh pedagang sapi asal Tunggorono Jombang ini.

Baca Juga :  Dinas Peternakan Klaim 108 Sapi Sembuh dari PMK

Hal serupa juga dirasakan Giman, 54, yang mengaku sepekan ini harga sapi terus turun. Tingkat penurunannya cukup besar hingga Rp 1 juta. Giman yang biasa menjual sapi potong usia 9-10 bulan seharga Rp 11,5 juta, sekarang hanya Rp 10,5 juta. “Itupun yang beli sepi, padahal mau kurban biasanya ramai,” sambung dia.

Ia mengaku sudah sangat selektif memilih sapi yang dijual di pasar. Giman menyebut, seluruh sapi yang ia bawa juga dalam keadaan sehat. “Tapi banyak yang sudah terlanjur takut, mau bagaimana,” lontarnya.

Ia sendiri hingga kemarin sangat membatasai pasokan sapi yang akan dijual. Giman dan pedagang sapi lain, tak mau mendatangkan sapi dari luar kota. “Yang saya bawa seluruhnya sapi lokalan Jombang, karena tidak berani mengambil dari kota lain, takut bawa penyakit,” pungkas warga Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan ini.

Baca Juga :  Suspek Terus Meluas, Bupati : PMK Tak Menular ke Manusia

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/