Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Harga Pita Cukai Rokok Naik, Pabrik Rokok Kecil di Jombang Mengeluh

14 Januari 2020, 11: 28: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Harga Pita Cukai Rokok Naik, Pabrik Rokok Kecil di Jombang Mengeluh

Para pekerja rokok sigaret kretek tangan memproduksi rokok di Desa Plandi, Kecamatan Jombang kemarin. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Keputusan pemerintah menaikkan harga pita cukai rokok sejak 1 Januari, dikeluhkan pengusaha rokok skala kecil di Jombang. Alasannya, produksi sigaret merugi sehingga banyak pekerja yang dirumahkan. 

Ketua Asosiasi Pengusaha Rokok Indonesia Kabupaten Jombang, Abdul Rohman menyampaikan, dampak kenaikan harga pita cukai membuat pihaknya merugi. ”Bagi kami perusahaan yang memproduksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) ini  sangat berimbas pada produksi,” ujarnya kemarin (13/1). 

Disampaikan, kebijakan kenaikan harga tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 136/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau per 1 Januari 2020. Dimana harga pita cukai rokok naik 10 persen. Dengan rincian per keping menjadi Rp 110. Sebelum adanya kenaikan hanya Rp 100. Meski kenaikan hanya Rp 10 namun jika dikalikan dengan jumlah besar, maka imbasnya dirasakan cukup besar.

Baca juga: Tak Ada Retribusi, Angkudes Tetap Wajib Masuk Terminal Kepuhsari

Sebagai contoh, per bulan, Rohman membeli pita cukai sebanyak satu rim yang berisi 60 ribu keping. Sebelum ada kenaikan, harganya Rp 72 juta. Namun kini setelah ada kenaikan harganya menjadi Rp 79,2 juta. ”Memang hal ini cukup berat, akibat kenaikan ini daya jual produsen turun cukup banyak,” ujar dia. 

Ia lantas merinci, satu pak rokok berisi 12 batang. Sedangkan, jika dikali Rp 110 x 12 batang sama dengan Rp 1.320. ”Artinya, untuk satu pack itu harga pitanya Rp 1.320,” tambahnya. Kemudian, dalam sebulan dia membutuhkan satu rim yang berisi 60 ribu keping pita. ”1.320 x 60.000 sama dengan Rp 79.200.000 atau kalau kita bulatkan Rp 79 juta,” rincinya. 

Kenaikan itu, lanjut dia, belum termasuk tambahan pajak lain. diantaranya, pajak daerah 10 persen dan pajak PPh 0,5 persen. Jika dihitung dari jumlah pita cukai yang ia beli, dalam sebulan pajak yang harus dibayarkan Rp 7,2 juta untuk pajak daerah dan Rp 3,2 juta untuk PPh. ”Harga pita cukai rokok naik, pajak juga naik,” tambah dia. 

Dampak kenaikan ini membuat sejumlah pekerja terpaksa dirumahkan. ”Biasanya ada 50 pekerja, kini menjadi hanya 20-an. Karena tidak kuat untuk membayar gaji mereka dengan kenaikan ini,” paparnya. Disinggung soal dampak produksi, Rohman mengaku berkurang. Alasannya, karena daya beli masyarakat kian menurun sejak adanya kenaikan harga rokok tersebut. 

”Kami kurangi agar tidak berdampak langsung ke pabrik,” papar dia. Selama ini, rokok hasil produksinya rata-rata dikirim ke luar Jawa. Seperti Kalimantan, Sumatera dan sejumlah daerah lainnya. 

Sebelum terjadi kenaikan, dalam satu bulan bisa mengirim 100-120 karton ke distributor. Namun di awal bulan ini, 40 karton saja sudah kesulitan jual. Dampaknya stok barang di gudang menumpuk dan tidak bisa keluar.”Kalau di Jombang memang jarang, rata-rata penjualan keluar kota,” pungkas dia. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia