alexametrics
28.4 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Budidaya Murai Batu yang Potensi Hasilkan Cuan

JOMBANG – Burung murai batu Medan, tak asing lagi bagi para kicau mania. Salah satu jenis burung terbaik di kelasnya ini bisa  dibuat koleksi. Seperti apa?

Salah satu ruang pada sebuah rumah di Dusun Plosorejo, Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, difungsikan sebagai tempat kandang burung murai batu Medan. Di ruang itu, terlihat ada puluhan sangkar yang semua berisi burung murai batu. Salah satu sangkar ukuran sedang, berisi empat ekor burung.

“Ini kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Untuk mulai beternak, jika ingin berhasil, harus sabar,” ungkap Sulis Harmadi salah seorang peternak burung murai batu. Kesabaran yang dimaksud saat memelihara burung itu dimulai  dari telaten dan keterampilan khusus.

Menurutnya, para pecinta burung berkicau akan kepincut keindahan dan kemerduan burung yang lantang, bervariasi dan merdu dari murai batu Medan. Inilah yang terasa ketika Jawa Pos Radar Jombang berkunjung ke rumahnya, kemarin.  Terdapat satu ruang yang difungsikan sebagai tempat kandang burung murai batu Medan.

Pria yang akrab disapa Sulis ini lantas menceritakan suka duka beternak burung yang berasal dari keluarga Turdidae, sekitar empat tahun lalu. Menurutnya, budidaya ternak burung murai batu Medan banyak mengalami kendala. Selain dua tahun burung tak mau produksi lantara telurnya terlalu panas dan ventilasi udara kurang.

Baca Juga :  Semua Piagam Punya Nilai

Lokasinya yang berdekatan dengan jalan raya juga menyebabkan burung-burung kurang produktif. “Selama dua tahun dulu tak pernah hasil,” katanya. Meski begitu, ia tak mau menyerah. Hal itu justru memacu semangatnya untuk lebih tekun beternak murai batu.

Pengalaman pahit dua tahun itu kemudian dijadikan pengalaman berharga. Ia kembali membeli sepasang burung murai batu dan beternak dengan caranya sendiri. Kendati beberapa kali gagal menjodohkan, Sulis terus mencoba hingga dirinya menemukan cara tepat untuk beternak.

Terlebih, setelah lebih dari satu tahun beternak, dia mulai mengerti karakteristik burung murai batu. “Bisa dikatakan baru tahun ketiga beternak murai ini saya mendapatkan hasil,” ujar pria 42 tahun ini.

Berdasarkan pengalamannya, jenis burung murai batu ini memiliki daerah atau teritorial sendiri. Sehingga jika sudah menyatakan tempat tersebut merupakan teritorialnya, si burung cenderung bertahan dan hanya mau kawin maupun mengerami telur di wilayah teritorialnya.

Baca Juga :  Gurih Renyah Lumpia Sayur dan Sosis Solo Dukuharum

Untuk itu, sebelum memulai proses perkawinan terlebih dahulu ia melepas indukan betina di sangkar. Jika betina telah menyatakan sangkar tersebut sebagai daerah teritorialnya, baru dilepaskan seekor pejantan.

Tujuannya, kendati sang betina tidak suka akan kedatangan pejantan tersebut. Namun masih menaungi, tidak sampai membunuh. Sebab, betina tidak ada naluri untuk membunuh. Dari situlah, Sulis mulai menjodohkan murai peliharaannya hingga cocok dan mau kawin. “Hal penting dalam menjodohkan baik jantan maupun betina tidak boleh dari satu peranakan dengan gen yang sama. Sebab, perkembangan anaknya pasti tak sempurna,” tutur dia.

Lambat laun, hasil budidaya murai batu medan miliknya mulai banyak diminati. Harga burung jantan dan betina disebutnya berbeda. Biasanya dihargai Rp 1 ,7 juta per ekor jantan, dan betina kalau masih trotol kisaran Rp 900 ribu. “Pemasaran peminat burung murai batu Medan ini rata-rata dari pencinta maniak burung Jombang, Nganjuk dan Surabaya,” pungkas Sulis.






Reporter: Azmy endiyana Zuhri
- Advertisement -

JOMBANG – Burung murai batu Medan, tak asing lagi bagi para kicau mania. Salah satu jenis burung terbaik di kelasnya ini bisa  dibuat koleksi. Seperti apa?

Salah satu ruang pada sebuah rumah di Dusun Plosorejo, Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, difungsikan sebagai tempat kandang burung murai batu Medan. Di ruang itu, terlihat ada puluhan sangkar yang semua berisi burung murai batu. Salah satu sangkar ukuran sedang, berisi empat ekor burung.

“Ini kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Untuk mulai beternak, jika ingin berhasil, harus sabar,” ungkap Sulis Harmadi salah seorang peternak burung murai batu. Kesabaran yang dimaksud saat memelihara burung itu dimulai  dari telaten dan keterampilan khusus.

Menurutnya, para pecinta burung berkicau akan kepincut keindahan dan kemerduan burung yang lantang, bervariasi dan merdu dari murai batu Medan. Inilah yang terasa ketika Jawa Pos Radar Jombang berkunjung ke rumahnya, kemarin.  Terdapat satu ruang yang difungsikan sebagai tempat kandang burung murai batu Medan.

Pria yang akrab disapa Sulis ini lantas menceritakan suka duka beternak burung yang berasal dari keluarga Turdidae, sekitar empat tahun lalu. Menurutnya, budidaya ternak burung murai batu Medan banyak mengalami kendala. Selain dua tahun burung tak mau produksi lantara telurnya terlalu panas dan ventilasi udara kurang.

Baca Juga :  Pakai Kostum Power Rangers, Beri Hadiah

Lokasinya yang berdekatan dengan jalan raya juga menyebabkan burung-burung kurang produktif. “Selama dua tahun dulu tak pernah hasil,” katanya. Meski begitu, ia tak mau menyerah. Hal itu justru memacu semangatnya untuk lebih tekun beternak murai batu.

- Advertisement -

Pengalaman pahit dua tahun itu kemudian dijadikan pengalaman berharga. Ia kembali membeli sepasang burung murai batu dan beternak dengan caranya sendiri. Kendati beberapa kali gagal menjodohkan, Sulis terus mencoba hingga dirinya menemukan cara tepat untuk beternak.

Terlebih, setelah lebih dari satu tahun beternak, dia mulai mengerti karakteristik burung murai batu. “Bisa dikatakan baru tahun ketiga beternak murai ini saya mendapatkan hasil,” ujar pria 42 tahun ini.

Berdasarkan pengalamannya, jenis burung murai batu ini memiliki daerah atau teritorial sendiri. Sehingga jika sudah menyatakan tempat tersebut merupakan teritorialnya, si burung cenderung bertahan dan hanya mau kawin maupun mengerami telur di wilayah teritorialnya.

Baca Juga :  H+6, Lalin Jalur Provinsi Ramai Lancar

Untuk itu, sebelum memulai proses perkawinan terlebih dahulu ia melepas indukan betina di sangkar. Jika betina telah menyatakan sangkar tersebut sebagai daerah teritorialnya, baru dilepaskan seekor pejantan.

Tujuannya, kendati sang betina tidak suka akan kedatangan pejantan tersebut. Namun masih menaungi, tidak sampai membunuh. Sebab, betina tidak ada naluri untuk membunuh. Dari situlah, Sulis mulai menjodohkan murai peliharaannya hingga cocok dan mau kawin. “Hal penting dalam menjodohkan baik jantan maupun betina tidak boleh dari satu peranakan dengan gen yang sama. Sebab, perkembangan anaknya pasti tak sempurna,” tutur dia.

Lambat laun, hasil budidaya murai batu medan miliknya mulai banyak diminati. Harga burung jantan dan betina disebutnya berbeda. Biasanya dihargai Rp 1 ,7 juta per ekor jantan, dan betina kalau masih trotol kisaran Rp 900 ribu. “Pemasaran peminat burung murai batu Medan ini rata-rata dari pencinta maniak burung Jombang, Nganjuk dan Surabaya,” pungkas Sulis.






Reporter: Azmy endiyana Zuhri

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/