alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Belajar dari Kasus di Tembelang, Ini Gejala Sapi Terjangkit PMK

JOMBANG – Dari kasus matinya sapi usai terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Pulorejo, Kecamatan Tembelang, medik veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Jombang menyebut sejumlah tanda ketika sapi terjangkit PMK. Gejalanya, memang disebutnya mirip dengan penyakit demam yang lumrah menyerang sapi sehingga sempat tak diduga jika kasus itu adalah PMK.

“Jadi awal itu kita tidak tahu kalau ini memang PMK, kenanya itu kan Jumat (6/5) lalu,” ungkap drh Fatkhurrohman, medik veteriner Disnak Jombang.

Ia menjelaskan, saat itu ia dipanggil Deni, pemilik kandang sapi untuk memeriksa sapinya yang sakit. Saat diperiksa, ia mengira saat itu sapi hanya mengalami gejala demam tiga hari, penyakit sapi pada umumnya. “Gejala awalnya itu sama dengan penyakit demam tiga hari. Sapinya tidak mau makan, demam dan hiper salivasi atau air liur berlebihan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sapi Suspek PMK di Jombang Jadi 224 Ekor, Tersebar di 9 Kecamatan

Pengobatan, langsung dilakukannya kepada sapi yang sakit. Namun, hingga tiga hari, kondisi sapi tak juga membaik. Bahkan, setelah hari ketiga, mulai muncul gejala lanjutan pada sapi ini, khususnya pada bagian mulut. “Setelah itu muncul gejala luka, seperti melepuh pada mulut sapi ini,” lanjutnya.

Bahkan, kondisinya semain memburuk di hari setelahnya. Sapi yang sudah tak mau makan karena mulutnya luka, mulai akan tak bisa berdiri karena lemas. Ditambah dengan munculnya luka pada kuku kaki sapi. “Itu cirinya ada luka mulut dan kaki karena itu disebut penyakit mulut dan kuku,” lontar Fatkhur.

Dalam kasus di kandang Deni di Dusun Kendilwesi, Desa Pulorejo, Fatkhur juga menyebut penyakit ini akan lebih rentan jika menyerang pada pedhet atau anakan sapi. Sapi yang belum dewasa, lebih mudah mati jika sudah terserang penyakit ini. “Untuk sapi anakan ini daya tahan tubuhnya rendah, jadi lebih rentan,” tambahnya.

Baca Juga :  SMAN Kesamben Semakin Maju dan Berkembang

Ia pun berpesan, agar sapi yang telah diketahui sakit bisa segera dilaporkan ke petugas terkait untuk segera mendapat penanganan. Selain itu, sapi yang sudah terpapar atau terindikasi terpapar PMK seharusnya diletakkan di tempat terpisah. “Kebersihan kandang juga harus dijaga, Lalu lintas orang dan ternaknya juga harus dijaga. Mau masuk kandang semprot orangnya, keluar nanti lepas baju, dicuci. Begitupun ketika mau ke kandang atau peternak lain,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sapi di Kecamatan Tembelang yang sempat dinyatakan suspek PMK, terbukti positif terjangkit penyakit ini. Bahkan, di peternakan itu sudah ada dua anakan sapi yang mati akibat penyakit itu.

- Advertisement -

JOMBANG – Dari kasus matinya sapi usai terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Pulorejo, Kecamatan Tembelang, medik veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Jombang menyebut sejumlah tanda ketika sapi terjangkit PMK. Gejalanya, memang disebutnya mirip dengan penyakit demam yang lumrah menyerang sapi sehingga sempat tak diduga jika kasus itu adalah PMK.

“Jadi awal itu kita tidak tahu kalau ini memang PMK, kenanya itu kan Jumat (6/5) lalu,” ungkap drh Fatkhurrohman, medik veteriner Disnak Jombang.

Ia menjelaskan, saat itu ia dipanggil Deni, pemilik kandang sapi untuk memeriksa sapinya yang sakit. Saat diperiksa, ia mengira saat itu sapi hanya mengalami gejala demam tiga hari, penyakit sapi pada umumnya. “Gejala awalnya itu sama dengan penyakit demam tiga hari. Sapinya tidak mau makan, demam dan hiper salivasi atau air liur berlebihan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Wabup Rambah Ajak Masyarakat Bentengi Iman dengan Alquran

Pengobatan, langsung dilakukannya kepada sapi yang sakit. Namun, hingga tiga hari, kondisi sapi tak juga membaik. Bahkan, setelah hari ketiga, mulai muncul gejala lanjutan pada sapi ini, khususnya pada bagian mulut. “Setelah itu muncul gejala luka, seperti melepuh pada mulut sapi ini,” lanjutnya.

Bahkan, kondisinya semain memburuk di hari setelahnya. Sapi yang sudah tak mau makan karena mulutnya luka, mulai akan tak bisa berdiri karena lemas. Ditambah dengan munculnya luka pada kuku kaki sapi. “Itu cirinya ada luka mulut dan kaki karena itu disebut penyakit mulut dan kuku,” lontar Fatkhur.

Dalam kasus di kandang Deni di Dusun Kendilwesi, Desa Pulorejo, Fatkhur juga menyebut penyakit ini akan lebih rentan jika menyerang pada pedhet atau anakan sapi. Sapi yang belum dewasa, lebih mudah mati jika sudah terserang penyakit ini. “Untuk sapi anakan ini daya tahan tubuhnya rendah, jadi lebih rentan,” tambahnya.

Baca Juga :  Terkait Banjir Sawah Kesamben Pemkab Jombang Matangkan Rencana Sudet Saluran
- Advertisement -

Ia pun berpesan, agar sapi yang telah diketahui sakit bisa segera dilaporkan ke petugas terkait untuk segera mendapat penanganan. Selain itu, sapi yang sudah terpapar atau terindikasi terpapar PMK seharusnya diletakkan di tempat terpisah. “Kebersihan kandang juga harus dijaga, Lalu lintas orang dan ternaknya juga harus dijaga. Mau masuk kandang semprot orangnya, keluar nanti lepas baju, dicuci. Begitupun ketika mau ke kandang atau peternak lain,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sapi di Kecamatan Tembelang yang sempat dinyatakan suspek PMK, terbukti positif terjangkit penyakit ini. Bahkan, di peternakan itu sudah ada dua anakan sapi yang mati akibat penyakit itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/