28.9 C
Jombang
Saturday, January 28, 2023

Tembakau di Utara Brantas Layu Diguyur Hujan, Petani Wajib Panen Cepat

JOMBANG – Hujan yang mengguyur Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir, membuat tanaman tembakau layu. Bila tidak dipanen lebih cepat, maka tembakau layu itu bisa mati.

”Sebenarnya sudah waktunya panen, tapi takut kalau nggak segera dipanen, kena hujan lagi malah mati,” keluh Musliah salah seorang petani tembakau.

Guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir saja, sebagian besar daun tembakau miliknya mulai layu. Hal itu bisa dilihat dari warna tembakau yang tak lagi hijau. Ada yang menguning hingga kecokelatan. ”Ini yang banyak kena air, akhirnya jadi layu,” imbuh dia sambil menunjuk ke daun tembakau yang berwarna kuning.

Dirinya merasa khawatir bila terlalu banyak air, maka berpengaruh pada kondisi daun tembakau. Meski panen kali ini merupakan petikan kedua atau biasa disebut daun sogleng.  ”Ini cepat-cepat dipanen, biar laku. Kalau dibiarkan, kena hujan lagi malah nggak bisa dijual,” ujar Masliah.

Baca Juga :  Pembangunan Pasar Pon Dikebut, Minggu Depan Mulai Kerjakan Fisik

Ia menyebut, panen tahun ini semua tembakau langsung dijual dalam kondisi basah. Tanpa dilakukan pengeringan atau dirajang. Baik petikan pertama maupun kedua. ”Harga basah Alhamdulillah yang babok (petikan pertama, Red) Rp 5.800 per Kg. Kalau sogleng (petika kedua, Red) Rp 3.000 per Kg, setelah dipetik langsung dijual,” lanjut warga Desa Bendungan, Kecamatan Kudu ini.

Biasanya, para petani sudah memiliki relasi pembeli atau tengkulak. Untuk petikan pertama misalnya, menurut Musliah, karena daunnya lebih bagus maka akan dikirim langsung ke pabrik rokok. ”Untuk sogleng biasanya diproses dikasih tetes, warnanya jadi hitam. Nggak tahu dibuat apa, soalnya ini langsung dijual,” pungkas dia. (fid/bin/riz)

Baca Juga :  Ditinggal ke Sawah, Rumah Warga Kedungpapar Ludes Terbakar





Reporter: Ainul Hafidz

JOMBANG – Hujan yang mengguyur Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir, membuat tanaman tembakau layu. Bila tidak dipanen lebih cepat, maka tembakau layu itu bisa mati.

”Sebenarnya sudah waktunya panen, tapi takut kalau nggak segera dipanen, kena hujan lagi malah mati,” keluh Musliah salah seorang petani tembakau.

Guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir saja, sebagian besar daun tembakau miliknya mulai layu. Hal itu bisa dilihat dari warna tembakau yang tak lagi hijau. Ada yang menguning hingga kecokelatan. ”Ini yang banyak kena air, akhirnya jadi layu,” imbuh dia sambil menunjuk ke daun tembakau yang berwarna kuning.

Dirinya merasa khawatir bila terlalu banyak air, maka berpengaruh pada kondisi daun tembakau. Meski panen kali ini merupakan petikan kedua atau biasa disebut daun sogleng.  ”Ini cepat-cepat dipanen, biar laku. Kalau dibiarkan, kena hujan lagi malah nggak bisa dijual,” ujar Masliah.

Baca Juga :  Harga Kedelai Tak Menentu, Bikin Pengusaha Tahu di Jombang Kelimpungan

Ia menyebut, panen tahun ini semua tembakau langsung dijual dalam kondisi basah. Tanpa dilakukan pengeringan atau dirajang. Baik petikan pertama maupun kedua. ”Harga basah Alhamdulillah yang babok (petikan pertama, Red) Rp 5.800 per Kg. Kalau sogleng (petika kedua, Red) Rp 3.000 per Kg, setelah dipetik langsung dijual,” lanjut warga Desa Bendungan, Kecamatan Kudu ini.

Biasanya, para petani sudah memiliki relasi pembeli atau tengkulak. Untuk petikan pertama misalnya, menurut Musliah, karena daunnya lebih bagus maka akan dikirim langsung ke pabrik rokok. ”Untuk sogleng biasanya diproses dikasih tetes, warnanya jadi hitam. Nggak tahu dibuat apa, soalnya ini langsung dijual,” pungkas dia. (fid/bin/riz)

Baca Juga :  Belum Tertangani, Jalur Senden-Ngrandulor Makin Hancur





Reporter: Ainul Hafidz

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/