Bukit Sintok Wonosalam Jombang Terancam Jadi Lahan Kritis Akibat Debit Mata Air Menurun

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 06:05 WIB
MEMUKAU: Pemandangan bukit sintok di Desa Panglungan Kecamatan Wonosalam saat pagi hari.
MEMUKAU: Pemandangan bukit sintok di Desa Panglungan Kecamatan Wonosalam saat pagi hari.

 

SALAH satu alasan yang membuat Bukit Sintok di Desa Panglungan, yang masuk kawasan Tahura Raden Soerjo menjadi area lahan kritis karena menurunnya debit air.

Sehingga banyak tanaman mengering bahkan mati saat musim kemarau.

Ketua Explore Wonosalam, Zainuddin, mengatakan, berbagai kegiatan pelestarian alam terus dilakukan, salah satunya dengan menjaga ekosistem di kawasan tersebut.

”Saat ini langkah kami memang menanam bibit pohon,’’ ujar dia.

Bagi Udin, upaya tersebut bukan hanya tentang menambah jumlah pohon.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.

Terlebih, dampak kerusakan lingkungan bisa dirasakan secara langsung ketika musim kemarau tiba.

Baca Juga: Petani Cengkeh di Wonosalam Jombang Dihantui Penyakit, Berharap Solusi Konkret Pemerintah

Salah satunya terlihat dari berkurangnya debit mata air.

”Kami berharap langkah ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut membantu menjaga kelestarian alam,” tuturnya.

Menurut dia, kondisi tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga kawasan hutan dan lahan bukan hanya tanggung jawab komunitas pecinta alam.

Masyarakat secara luas juga memiliki peran yang sama.

”Karena di musim kemarau seperti ini rata-rata debit dari mata air menurun,’’ pungkasnya. (ang/naz)

Editor : Anggi Fridianto
Bukit Sintok Tahura Raden Soerjo Jombang Wonosalam