RadarJombang.id - UDARA pagi di lereng Kecamatan Wonosalam selalu datang bersama kabut tipis dan aroma tanah basah.
Di ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), hamparan kebun hijau tumbuh subur. Tak hanya durian yang selama ini menjadi ikon, kini pisang ulin mulai mencuri panggung sebagai komoditas menjanjikan.
Di Dusun Tukum, Desa Wonosalam, Heri Susanto tampak sibuk memilah tandan pisang yang baru saja dipanen, Rabu (25/2).
Tandan-tandan itu tersusun rapi di bawah rumpun pohon, kulitnya mulus dengan semburat kuning kehijauan. Dari lahan seluas sekitar 8.000 meter persegi, ia menanam kurang lebih 500 pohon pisang ulin dengan sistem tumpang sari.
Bagi Heri, memilih pisang ulin yang juga dikenal sebagai pisang berlin bukan tanpa pertimbangan. Selain adaptif di dataran tinggi, tanaman ini relatif mudah dirawat dan memiliki pasar yang jelas. ”Sebulan bisa dua kali panen,” ujarnya.
Ritme panen yang cepat itu menjadi keunggulan tersendiri. Dalam sebulan, Heri mampu memetik sekitar 70 hingga 100 tandan. Setiap tandan dihargai Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu, tergantung ukuran dan kualitas buah. Dari hasil tersebut, omzet yang diperoleh berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan.
Angka itu memang terlihat sederhana. Namun bagi petani lereng gunung, panen dua kali sebulan berarti arus kas yang lebih terjaga. Ia tak perlu menunggu musim tahunan seperti durian untuk merasakan hasil.
Keunggulan pisang ulin bukan hanya pada produktivitas. Rasa manis dengan tekstur daging buah yang padat membuatnya cocok dikonsumsi langsung maupun diolah.
Proses pematangannya pun relatif cepat. Tak heran jika permintaan cenderung stabil, bahkan meningkat saat musim hajatan. ”Kalau lagi banyak hajatan, permintaan naik. Penjualannya gampang,” tambahnya.
Sistem tumpang sari yang diterapkan Heri juga menjadi strategi mitigasi risiko. Di sela-sela pisang, ia menanam komoditas lain sehingga tidak bergantung pada satu hasil panen. Jika satu komoditas terganggu cuaca atau harga, masih ada penopang lain. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto