Radarjombang.id - Tren budidaya alpukat di Kecamatan Wonosalam Jombang terus menunjukkan geliat positif. Dari berbagai varietas yang ditanam petani, jenis miki atau yang dalam sertifikat terdaftar sebagai cimpedak menjadi yang paling banyak dibudidayakan.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wonosalam, Adib Taufani, menyebut populasi alpukat varietas unggul terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. ”Kalau yang sudah masuk varietas, paling tinggi miki atau cimpedak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebutan miki lebih populer di kalangan petani dan pasar. Sementara nama cimpedak tercantum dalam sertifikat resmi varietas.
Berdasarkan pendataan, urutan varietas alpukat dari populasi terbesar hingga terkecil di Wonosalam, yakni jenis Miki/Cimpedak, Aligator, Kendil/Hawaii/Markus, Hass, RV, Kelud dan SAB 032
Selain varietas unggul tersebut, alpukat lokal hasil tanaman dari biji masih menjadi yang paling banyak secara keseluruhan. Namun, untuk kategori varietas terdaftar, miki atau cimpedak menempati posisi teratas.
”Kalau secara umum, yang paling banyak sebenarnya masih lokal dari biji. Tapi kalau yang sudah masuk varietas unggul, miki paling tinggi,” jelasnya.
Dari sisi sebaran, alpukat paling banyak ditemukan di Desa Sambirejo. Total populasi di desa tersebut mencapai 48.921 batang, menjadikannya sentra alpukat terbesar di kawasan lereng Gunung Anjasmoro.
Dari sisi harga, alpukat premium seperti miki bisa menembus Rp 35 ribu per kilogram. ”Sedangkan alpukat lokal berada di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan musim panen,’’ pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto