Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Menikmati Kopi Excelsa Tradisional dari Lereng Anjasmoro Jombang: Sangrai Kopi Dilakukan Manual, Aroma Lebih Kuat

Anggi Fridianto • Kamis, 29 Januari 2026 | 09:30 WIB

 

TETAP EKSIS : Dian Nur Wahid warga Dusun Banyon, Carangwulung, Wonosalam, Jombang saat mengolah kopi nya kemarin (21/1).   
TETAP EKSIS : Dian Nur Wahid warga Dusun Banyon, Carangwulung, Wonosalam, Jombang saat mengolah kopi nya kemarin (21/1).  
 

 

 

Radarjombang.id – Di tengah gempuran teknologi modern, ada anak muda di lereng Gunung Anjasmoro Jombang yang memilih tetap setia pada cara lama.

Muhammad Dian Nur Wahid, 25, warga Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, masih mempertahankan pengolahan kopi excelsa dengan cara tradisional warisan orang tuanya.

”Jadi usaha ini sudah berjalan sejak tahun 2000-an. Saya meneruskan usaha orang tua,” ujar Dian saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di rumah produksinya, Sabtu (17/1).

Dian mengakui, proses pengolahan kopi ala tradisional memang memakan waktu lebih panjang, tapi hasilnya berbeda. Biji kopi green bean dipetik, dijemur, lalu disangrai manual dengan alat buatan sendiri dari pelat besi. ”Dulu keluarga saya menggunakan tungku kayu, kini beralih ke LPG,” terangnya.

Setelah disangrai sekitar satu jam, biji kopi didinginkan, disortir ulang, lalu digiling hingga menjadi bubuk. ”Setelah disangrai, kopi didinginkan dulu, lalu disortir kembali sebelum masuk proses penggilingan hingga menjadi bubuk,” jelasnya.

Produk bubuk kopi itu dikemas dalam ukuran 100 gram dan 250 gram dengan merek Nyoto Roso. Andalan utamanya tentu kopi excelsa khas Wonosalam, meski ada juga varian arabika, robusta, dan campuran robusta.

Dian menilai cara tradisional dalam mengolah kopi memberi keunggulan tersendiri. Aroma kopi lebih kuat, karakter rasanya khas, sekaligus menekan biaya produksi. ”Biaya produksi lebih irit, dan aroma kopi dari proses tradisional itu beda,” katanya.

Pasar Merambah Luar Kota

SEMENTARA itu, di balik aroma sedap kopi excelsa Wonosalam bikinan warga Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, ada tenaga ekstra yang dikorbankan. Selain itu, ketelatenan juga menjadi kunci agar kualitas tetap terjaga.

”Kuncinya harus telatan. sebab butuh tenaga juga,” ujarnya singkat.

Dalam sehari, Dian mampu memproduksi hingga 20 kilogram bubuk kopi. Penjualan rata-rata sekitar 2 kilogram per hari. Dengan harga Rp 130 ribu hingga Rp 140 ribu per kilogram, omzet bulanan mencapai sekitar Rp 6 juta.

Untuk pemasaran, kopi Nyoto Roso buatan Dian tidak hanya beredar di Jombang. Pembeli datang dari Blitar, Tulungagung, hingga Kediri juga sering pesan pada dirinya. Kopi excelsa dijual Rp 35 ribu per 250 gram atau Rp 140 ribu per kilogram. Sementara robusta campuran dibanderol Rp 25 ribu per 250 gram dan Rp 15 ribu per 100 gram. ”Semoga ke depannya bisa lebih maju,” pungkas Dian.

Kopi racikan Dian juga memiliki pelanggan setia. Salah satunya Rendar Putra, 26 warga Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan. Ia rutin menikmati kopi excelsa Wonosalam bersama keluarga. ”Saya pakai setiap hari. Selain karena rasanya unik, ini juga bentuk kecintaan saya pada produk asli Jombang,” kata Rendar.

Kopi ini kerap tersaji saat menjamu tamu. Dari sisi harga, ia menilai produk tersebut terjangkau. ”Harganya masih ramah di kantong, apalagi dengan rasa yang beda,” tambahnya. (ang/naz)

 

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#kopi ekselsa wonosalam #Jombang #Racikan Tradisional #Wonosalam