WONOSALAM tak hanya terkenal dengan sumber daya alam yang melimpah. Warga yang tinggal di lereng Gunung Anjasmoro juga kreatif memanfaatkan peluang. Salah satunya dilakukan Sunoto, 51, warga Dusun Notorejo, Desa/Kecamatan Wonosalam yang suskes memproduksi Pupuk bokashi dari hasil pengolahan kotoran hewan dan EM4 (Effective Microorganisme).
Sunoto sudah beberapa tahun ini bisa menghemat pengeluaran untuk pembelian pupuk tanamannya. Sebab, hampir 80 persen pupuk yang ia gunakan adalah pupuk organik.
Ia memanfaatkan kotoran kambing dan bahan tambahan Effective Microorganisme (EM4) hasil budi daya sendiri. Sunoto mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan dan baik untuk tanaman. ”Prosesnya sederhana, tapi butuh ketelatenan,” ujarnya di temui kemarin (29/10).
Kotoran kambing terlebih dahulu digiling menggunakan alat khusus yang didapat dari bantuan Dinas Peternakan. Setelah itu, bahan dicampur dengan EM4 hasil buatan sendiri. Menariknya, EM4 yang digunakan bukan produk pabrikan, melainkan hasil pengolahan lokal dari rumen kambing, yakni bagian jeroan hewan yang mengandung banyak mikroorganisme pengurai alami. ”Kami sudah tidak beli lagi, cukup memperbanyak dari rumen ternak yang ada,” tutur Sunoto sambil tersenyum.
Proses fermentasi pupuk dilakukan selama tiga bulan, ditutup rapat menggunakan terpal. Setiap minggu, bahan diaduk dan disiram kembali dengan cairan mikroba agar proses penguraian berjalan optimal. ”Minimal satu bulan sudah bisa dipakai, tapi hasil terbaik kalau tiga bulan,” jelasnya.
Dari 17 ekor kambing PE (Peranakan Etawa) yang dipelihara, Sunoto mampu menghasilkan sekitar tiga ton pupuk bokashi setiap kali proses produksi. Namun, hasil tersebut belum dijual ke pasaran karena produksi terbatas. “Sementara ini masih untuk kebutuhan sendiri, malah masih kurang,” katanya sambil tertawa kecil.
Menurut Sunoto, hampir semua jenis kotoran ternak bisa diolah menjadi bokashi, baik dari kambing, sapi, maupun domba. Hanya saja, tiap jenis membutuhkan perlakuan berbeda. ”Kalau sapi kan lebih benyek (basah), tapi tetap bisa diolah dengan proses yang sama,” pungkasnya.
Baca Juga: Puskesmas Wonosalam Jombang Bakal Direlokasi, Lokasi Baru Disebut Lebih Aman dan Strategis
Baik untuk Jaga Kesuburan Tanah
SEMENTARA itu, penggunaan pupuk bokhasi dinilai memiliki banyak manfaat baik untuk tanaman dan kesuburan tanah. Sunoto, 51, warga Dusun Notorejo, Desa/Kecamatan Wonosalam, yang sudah memproduksi pupuk bokhasi belakangan ini merasakan manfaatnya.
”Awalnya cuma coba-coba, tapi hasilnya bagus. Tanaman jadi lebih subur dan tanahnya gembur,” ujarnya sambil tersenyum.
Pupuk bokashi kini menjadi pilihan banyak petani di Wonosalam. Selain murah dan mudah dibuat, manfaatnya terbukti nyata. Bokashi mampu memperbaiki struktur tanah, menambah unsur hara, serta membantu pertumbuhan tanaman lebih cepat. ”Tak hanya itu, mikroorganisme yang terkandung di dalamnya juga membantu menekan serangan hama dan penyakit tanaman,” papar dia.
Menurut Sunoto, penggunaan bokashi secara rutin dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. ”Tanah jadi lebih sehat, tidak keras seperti kalau sering pakai pupuk kimia. Hasil panennya juga lebih bagus,” katanya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto