Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Hasil Panen Melimpah, Kopi Robusta Jadi Andalan Petani Panglungan Wonosalam Jombang

Anggi Fridianto • Kamis, 10 Juli 2025 | 12:32 WIB
PANEN RAYA: Asmat, 60 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam saat panen kopi, Minggu (6/7).
PANEN RAYA: Asmat, 60 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam saat panen kopi, Minggu (6/7).

Radarjombang.id - Kopi di Kecamatan Wonosalam tengah memasuki panen raya. Petani yang tinggal di lereng kaki Gunung Anjasmoro bersemangat memanen kopi. Selain hasil panen melimpah, harga jual juga tinggi. Varietas jenis robusta jadi salah satu andalan petani.

Salah satunya dilakukan Asmat, 60, petani kopi asal Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam yang tampak sumringah. Ya, dibandingkan tahun lalu, panen kopi di kebunnya kali ini lebih baik.

Di kebun seluas 4 hektare itu, didominasi tanaman kopi jenis robusta. Sejumlah pohon tampak dihiasi cherry kopi. Asmat pun bergegas memetik biji kopi yang sudah berwarna merah. ”Tahun kemarin buahnya tidak terlalu banyak, kira-kira hanya 1,5 ton, sedangkan panen tahun ini semua tanaman kopi yang saya tanam berbuah,” ujar dia.

Wilayah Desa Panglungan sejak dulu dikenal dengan penghasil kopi robusta. Kopi yang sudah ada sejak zaman Belanda ini dikenal memiliki rasa pahit yang pekat dengan aroma harum mirip kacang.

Ia menyampaikan, di kebunnya seluas 4 haktare tersebut, ada juga jenis varietas kopi yang ditanam. Masing-masing robusta dan excelsa. Namun, dari kedua jenis itu, robusta yang paling mendomininasi. "Total lahan tanaman kopi yang saya miliki sekitar 4 hektare.  Kali ini saya baru panen di lahan 1 hektar saja dengan jenis kopi robusta, sedangkan lainnya akan saya panen hari besoknya,” papar dia.

Untuk menjaga produktivitas tanaman kopi, Asmat memanfaatkan penggunakan pupuk kompos. Penggunaan pupuk kompos dinilai lebih bagus untuk menyuburkan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman. Sesekali ia juga menggunakan pupuk kimia untuk mencegah hama. ”Tanaman juga memerlukan perawatan dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk kompos,” ungkapnya.

Untuk pemasaran, Asmat mengaku tak pernah bingung menjual kopi. Sebab, banyak tengkulak siap mengambil. ”Harga kopi gelondong yang baru dipetik dari pohonnya dihargai oleh para pengepul seharga Rp 12.500 per kilogram. Jadi keuntungan saya dari buah kopi yang saya jual, 1 hektar lahan kopi menghasilkan 3 ton, tinggal dikalikan Rp 12.500,” pungkasnya. (ang/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#Kopi #Jombang #Panglungan #Wonosalam