Radarjombang.id - Kopi menjadi salah satu komoditas unggulan di Kecamatan Wonosalam Jombang.
Tak terkecuali di Dusun Sumber, Desa/Kecamatan Wonosalam yang telah memulai musim panen. Warga bersyukur hasil panen kopi musim ini melimpah.
Sampiyo, salah satu petani kopi di Dusun Sumber sudah mulai memanen tanaman kopinya sejak awal Juli.
Ia bersyukur karena produktivitas kopi musim ini cukup bagus. ”Ini sudah mulai panen. Yang saya pilih ini petik merah karena harga lebih mahal,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, (2/7).
Menurutnya, hasil panen kopi musim ini cukup melimpah. Itu terlihat dari lebatnya buah kopi di masing-masing pohon.
Selain cuaca mendukung, melimpahnya panen juga dikarenakan faktor perawatan yang dilakukan. Misalnya, rutin melakukan pruning atau pemotongan dahan yang berpotensi tidak produktif. Kemudian penyiangan pada tanaman gulma pengganggu di sekitar tanaman kopi.”
Selain itu, pemupukan rutin yang kita lakukan juga berpengaruh,’’ tambahnya.
Dalam penggunaan pupuk, Sampiyo selalu memanfaatkan kotoran hewan atau yang biasa disebut warga setempat rabuk. Selain ketersediannya melimpah, penggunaan pupuk hewan dari kotoran kambing juga dinilai efektif dalam menyuburkan tanaman. ”Selama ini selalu pakai pupuk kotoran hewan. Karena di sini juga banyak,’’ jelas dia.
Dalam sekali panen, Sampiyo bisa mendapatkan kopi sekitar 15 ton. Ada dua jenis kopi yang ditanam, yakni robusta dan excelsa.
“Di kebun saya hanya ada dua jenis, yakni robusta dan excelsa,’’ jelas dia.
Harga jual kopi jenis robusta dan excelsa juga bersaing setiap tahun. Kadang naik dan kadang turun. Kalaupun turun, nilainya tidak banyak hanya berkisar Rp 3.000 - Rp 5.000 per kg.
Seperti musim kali ini, harga robusta per kilogram Rp 65 ribu - Rp 70 ribu per kg, tergantung kualitas.
Kemudian harga excelsa tetap stabil di angka Rp 80 ribu - Rp 85 ribu per kg. ”Memang harga jual lebih bagus excelsa, karena permintaan di pasar tinggi,’’ pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto