Radarjombang.id - Cengkeh menjadi salah satu komoditas unggulan petani Wonosalam Jombang.
Sejak dulu, warga yang tinggal di Lereng Gunung Anjasmoro banyak menggantungkan hidup dari hasil perkebunan cengkeh.
Salah satunya, Heri Susanto, petani asal Dusun Tukum, Desa Wonosalam.
”Juni dan Juli adalah musim panen raya cengkeh di Wonosalam,’’ terangnya sembari memetik cengkeh di kebunnya, Rabu (25/6) pagi.
Heri mengaku, musim panen cengkeh kali ini lumayan bagus. Namun, Jika dibandingkan musim lalu, hasilnya hasilnya menurun.
”Ya kalau dibilang bagus ya lumayan, tapi tidak sebagus sebelumnya. Tahun ini ada sedikit penurunan efek dari cuaca esktrem,’’ jelas dia.
Sedikitnya ada 50-60 pohon cengkeh produktif di kebunnya dengan luas 6.000 meter persegi. Ada beberapa jenis yang ditanam, seperti jenis lokal dan sansibar. Dalam setiap musim, Heri biasanya mendapatkan 1 ton cengkeh basah.
”Ini kan sistem tumpang sari, jadi ada cengkeh, durian dan tanaman lainnya,” papar dia.
Harga cengkeh kali ini lumayan bagus. Per kilogramnya untuk basah dihargai Rp 35 - Rp 37 ribu. Sedangkan harga kering lebih mahal, yakni Rp 110 – Rp 115 ribu per kg.
”Untuk penjualan biasanya sudah ada yang ambil. Jadi kita tidak perlu bingung,” jelas dia.
Dalam merawat tanaman cengkehnya, Heri biasanya menggunakan pupuk organik dari kotoran kambing. Penggunaan pupuk organik dinilai lebih bagus dibandingkan kimia.
”Tanah lebih subur jika menggunakan pupuk organik,’’ pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto