Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Sukses Warga Wonosalam Jombang yang Sukses Budi Daya Singkong

Anggi Fridianto • Kamis, 3 Oktober 2024 | 19:55 WIB
Zaenal Arifin, warga Desa/Kecamatan Wonosalam Jombang saat merawat tanaman ketela pohon di kebun
Zaenal Arifin, warga Desa/Kecamatan Wonosalam Jombang saat merawat tanaman ketela pohon di kebun

RadarJombang.id - Salah satu komoditas pangan yang banyak dibudidayakan warga Wonosalam Jombang, yakni ketela pohon atau singkong.

Selain perawatan mudah, produktivitas singkong di wilayah Wonosalam Jombangjuga tinggi lantaran didukung iklim yang baik serta tanah yang subur.

Tak ayal, banyak warga Wonosalam Jombang tertarik membudidayakan singkong di kebunnya.

Salah satunya ditekuni Zaenal Arifin, warga Desa/Kecamatan Wonosalam. Ia memanfaatkan kebunnya seluas 7.500 meter persegi untuk menanam ketela pohon.

Salah satu pertimbangan Zaenal memilih tanaman singkong lantaran tanaman ini tidak membutuhkan air terlalu banyak serta perawatanya mudah.

Selain itu, secara gografis, lahan milik Zaenal terletak di perbukitan yang cukup sulit dijangkau air.

”Akhirnya di sini saya tanam ketela semua,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ada dua jenis ketela pohon yang dia tanam. Masing-masing ketelah pohon berwarna kuning serta ketela pohon berwarna putih.

Menurutnya, kedua ketela pohon memiliki pasar tersendiri. ”Kalau putih itu sudah umum, dan warga sini menyebutnya kalpri. Kalau kuning ini banyak dicari pedagang tape,” tambahnya.

Menurutnya, budi daya ketela pohon termasuk mudah dan minim perawatan. Beberapa hal yang penting diperhatikan di antaranya pengolahan tanah.

Umumnya, petani membuat bedengan untuk media tanam singkong. Kedua, yakni penyiapan bibit.

Untuk pengembangbiakan bibit, Zaenal menerapkan metode steak. Teknisnya, memotong batang singkong yang sehat menjadi potongan sekitar 15-20 cm panjangnya.

”Kalau saya biasanya menggunakan yang mata tunasnya sehat dan bagus. Tidak ada bintik-bintik hitam atau terkelupas,” papar dia.

Hal yang yang perlu diperhatikan saat menanam, jarak antarpohon harus diperhatikan, minimal 80 cm.

”Setelah bibit siap, tinggal ditanam di bedengan dengan kedalaman sekitar 5-10 cm, jaraknya juga harus diperhatikan, jangan terlalu dekat, kurang lebih antarpohon jaraknya minimal 80 cm,” bebernya.

Selain itu, penting juga dilakukan pemupukan tanaman. Terutama di masa-masa awal tanam.

Normalnya, sekitar 5-6 hari setelah ditanam, makan bibit akan mulai keluar akar dan bertunas.

Agar pertumbuhannya maksimal, diberikan pemupukan juga disiram jika kondisi tanahnya kering untk menjaga kelembapan tanah.

Hal penting lainnya dalam perawatan tanaman singkong, petani harus membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.

Sebab, Jika tidak dibersihkan, hal itu dapat menganggu perkembangan umbi dalam tanah.

”Karena kalau banyak rumput, ketela pohon akan kekurangan nutrisi dan tidak bisa terkena sinar matahari,” jelas dia.

Di kebunnya, Zaenal juga menanam beberapa tanaman lain seperti durian, pisang dan lain-lain.

Menurutnya, itu lebih menguntungkan dibandingkan menanam satu jenis pohon saja.

”Ya, ini kebun konsep tumpangsari, karena ada beberapa tanaman produktif lainnya,” pungkasnya.

 

Panen 8 Bulan Sekali, Harga Jual Bersaing

Zaenal Arifin, warga Desa/Kecamatan Wonosalam menunjukkan ketela pohon yang baru dipanen.
Zaenal Arifin, warga Desa/Kecamatan Wonosalam menunjukkan ketela pohon yang baru dipanen.

Selain bisa dikonsumsi sendiri untuk keluarga, harga jual tanaman singkong juga lumayan.

Hal ini yang menjadikan banyak petani di wilayah Wonosalam tergerak untuk membudidayakan ketela pohon.

Di daerah lokal Jombang, harga jual ketela pohon mulai Rp 3 ribu sampai Rp 5.500 per kilogram.

”Kalau sekarang harga jual lumayan bagus, mulai Rp 3 ribu sampai Rp 5.500 per kilogram,” ujar dia Zaenal Arifin, kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.

Ia mengatakan, harga ketela pohon kuning dan putih berbeda. Meski rasa hampir sama, namun jenis kuning lebih mahal di pasaran. ”Yang kuning ini sekitar Rp 5.500 per kg dan isinya lebih besar,”  papar dia.

Soal pemasaran, Zaenal tak pernah bingung. Pasalnya, setiap kali musim panen beberapa pengepul datang ke rumahya.

Menurutnya, penjualan dengan metode tebas lebih diminati para petani karena perputaran uang lebih cepat.

”Rata-rata di sini dibeli pengepul. Soalnya kalau dijual sendiri, waktunya tidak ada,’’ papar dia.

Ketela pohon memang memiliki masa tanam lebih lama dibandingkan tanaman lainnya. Sejak ditanam, ketela baru siap dipanen 8 bulan berikutnya.

”Bisa sampai hampir setahun kalau mau panen yang besar,” pungkasnya.  (ang/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#Jombang #sukses #singkong #ketela pohon #Wonosalam