RadarJombang.id - Warga Wonosalam Jombang pandai memanfaatkan pekarangan agar lebih bermanfaat.
Seperti yang dilakukan Zaenal Arifin, warga Desa/Kecamatan Wonosalam Jombang yang sudah setahun ini membudidayakan labu blonceng di pekarangan rumah.
Kondisi tanah yang subur menjadikan tanaman labu blonceng berbuah dan cuannya maksimal.
Di pekarangan rumah Zaenal sekitar 10 x 5 meter persegi itu, ada sejumlah tanaman labu blonceng yang berbuah dan siap panen.
Sebagian dibiarkan masak di pohon hingga tua untuk bibit. Sebagian, ia panen untuk konsumsi dan dibagikan kepada tetangga.
”Kalau di Wonosalam warga menyebutnya blonceng. Tapi kalau di daerah lain ada yang menyebut labu siam,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Zaenal mengatakan, labu blonceng merupakan tanaman merambat sehingga umumnya dibuatkan lanjaran.
Manfaat labu blonceng yang pertama bisa dimasak menjadi lauk pauk.
Bisa dijadikan bahan membuat sayur lodeh hingga oseng-oseng. Selain itu, bisa juga dijadikan manisan untuk cemilan di rumah.
”Tapi di sini rata-rata di jadikan lodeh,” papar dia.
Bagi warga Wonosalam, memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami sayur atau buah adalah hal harus dilakukan.
Baca Juga: Cengkeh Zanzibar Tumbuh Subur di Wonosalam Jombang, Ini Keunggulannya
Selain agar bermanfaat, juga bisa menekan alokasi anggaran belanja.
“Saya menanam sekitar 1 tahun lalu. Ini sudah panen berkali kali,’’ papar dia.
Di pekarangan rumahnya, Zaenal sudah menanam 16 pohon. Ia menggunakan bambu sebagai lanjaran atau tempat merambat tanaman merambat itu.
Zaenal sengaja menggunakan lanjaran bambu agar tanaman lebih rapi, mudah dirawat serta terhindar dari serangan hewan yang sering menggerogoti sayur seperti tikus dan lain-lain.
”Selain itu, keuntungan menggunakan lanjaran bambu, buahnya dapat tumbuh maksimal karena terkena sinar matahari secara merata,” papar dia.
Setiap panen, bapak lima anak ini tidak pernah menjualnya ke pasar. Kebanyakan, dikonsumsi pribadi dan dibagikan ke tetangga maupun saudara.
Padahal, jika dijual harga sayur ini juga memiliki nilai ekonomis. Berkisar Rp 5.000 per buah tergantung ukuran dan kualitas.
”Kadang juga untuk oleh-oleh tamu yang berkunjung ke sini,” pungkasnya.
Gunakan Pupuk Bokasi dan Campuran Bawang Putih
Dalam merawat tanaman labu blonceng di pekarangan rumahnya Desa/Kecamatan Wonosalam, Zaenal Arifin mengandalkan pupuk bokasi dari hasilkan dari kotoran cacing atau bekas cacing yang sudah difermentasi oleh cacing.
Selain itu, ia juga menggunakan rendaman bawang putih agar tanaman tahan serangan penyakit.
Zaenal mengatakan, ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum menanam labu blonceng.
Pertama, adalah mempersiapkan bibit yang tahan serangan penyakit.
Caranya bibit labu blonceng harus dijemur sampai kering selama satu minggu.
Setelah itu, labu kering itu harus rendam dalam air yang telah kita campur bawang putih selama satu malam.
"Dalam mencampur air bawang putih alat-alat yang digunakan steril tidak boleh kemasukan garam/penyedap rasa lainnya,” ujar dia.
Setelah itu, bibit yang telah direndam air bawang putih siap untuk ditanam.
Dalam proses penanamannya sendiri, Zaenal juga tidak langsung menanam ke dalam tanah.
Pertama-tama, ia mencampur tanah dengan pupuk bokasi dari pengolahan ternak cacing. Menurutnya, hasilnya lebih maksimal.
”Selama ini kita tidak pernah menggunakan pupuk kimia tapi pupuk organik dari bokasi,” pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Achmad RW