RadarJombang.id - Selain dikenal sebagai surganya pecinta durian, Kecamatan Wonosalam Jombang juga kaya akan potensi alam lainnya seperti kemiri.
Tumbuhan kemiri, tumbuh subur di hutan Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam Jombang.
Bertahun-tahun, kemiri menjadi salah satu komoditas pertanian andalan masyarakat di desa ini.
Kemiri tumbuh produktif di hutan Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Wonosalam, Jombang.
Setiap pagi, warga setempat banyak yang masuk ke hutan belantara untuk berburu biji kemiri yang jatuh dari pohon.
Pohon kemiri sendiri rata-rata tumbuh di hutan lindung wilayah setempat.
Setiap pagi, biji kemiri yang sudah matang akan jatuh dari pohonnya.
”Setiap hari orang-orang ke sini untuk menyetorkan hasil buruan kemiri di hutan,” ujar Tria Yunita, 40, warga Dusun Mendiro.
Ia mengakui, berburu biji kemiri susah-susah gampang. Sebab, ukurannya yang cenderung kecil membuatnya sulit ditemui di balik semak maupun rerumputan kering.
”Ya harus jeli kalau mencari di hutan,’’ tambahnya.
Tria bersama keluarganya, sudah bertahun-tahun menjadi pengepul kemiri yang didapat warga dari hutan.
Biji kemiri basah yang didapat dari hutan, kemudian dijemur sampai kering.
Proses penjemuran biasanya membutuhkan waktu sekitar 5-2 minggu tergantung cuaca.
”Kalau hujan-hujanan seperti ini bisa 2 minggu baru kering,’’ jelas dia.
Tanaman dengan nama latin aleurites moluccanus ini, dimanfaatkan bijinya sebagai bahan pembuatan minyak dan rempah-rempah.
Sebagian warga juga memanfaatkan untuk bumbu masak serta campuran sambal pecel.
”Jadi warga ke sini dan menjual Rp 9.000 per 127 biji,’’ papar dia.
Harga jual kemiri di pasaran saat ini cenderung menurun. Dari sebelumnya Rp 50.000 per kg menjadi Rp 35.000 per kg.
”Karena sekarang musim panen, jadi harga agak menurun,’’ pungkasnya.
Jadi Tambahan Pemasukan Warga Sekitar
Kepala Desa Panglungan Sugiat mengatakan, keberadaan tanaman kemiri yang tumbuh subur di hutan Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam membawa berkah bagi warga sekitar.
Warga mendapat tambahan pemasukan dari hasil penjualan biji kemiri hasil berburu hutan.
”Total ada ribuan pohon kemiri di Mendiro. Setiap hari, warga boleh mengambil biji yang sudah jatuh di tanah,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Warga memang dibebaskan mengambil kemiri, namun diimbau untuk turut merawat tanaman dengan cara memberi pupuk atau minimal tidak merusak tanaman.
”Untuk pemupukan tanaman kemiri sangat mudah. Rata-rata warga menggunakan pupuk kompos yang dihasilkan dari kotoran kambing,’’ jelas dia.
Menurutunya, keberadaan kemiri tak sekadar jadi penopang perekonomian warga.
Namun juga menjadi penyangga sumber mata air di desa setempat.
”Karena akar pohon kemiri kuat, dan pohonnya sudah besar-besar, jadi keberadaanya bisa menjadi penyangga mata air,’’ tandasnya.
Menurutnya, penggunaan pupuk kompos untuk memupuk tanaman kemiri sangatlah bagus.
Selain bisa menyuburkan tanaman, kompos juga dinilai banyak mengandung nutrisi untuk tanah.
”Apalagi mayoritas warga kami punya ternak di rumah, jadi tidak sulit untuk membuat pupuk kompos,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW