JOMBANG – Potensi komoditas kopi di Wonosalam luar biasa. Ada banyak komoditas kopi yang dikembangkan warga seperti jenis kopi arabika, robusta, excelsa.
Salah satu yang banyak dikembangkan warga di Wonosalam yakni, kopi robusta.
Luas areal tanam kopi robusta pada 2022 ditaksir mencapai 966,9 hektare dengan potensi produksi mencapai 609,1 ton per tahun.
Selain dijual dalam bentuk biji kopi, sebagian warga mengolahnya terlebih dulu dan menjualnya dalam bentuk kopi bubuk kemasan.
Dengan begitu, nilai jual kopi lebih tinggi. Salah satunya ditekuni Suliyanti, 42, warga Dusun Arjosari, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam.
Sejak beberapa tahun terakhir, ia berhasil mengembangkan usaha kopi bubuk kemasan.
Ia lebih memilih kopi jenis robusta untuk diolah menjadi kopi bubuk kemasan. Selain rasanya yang nikmat, kopi robusta juga tersedia melimpah di tempat tinggalnya.
”Awalnya ingin membuat kopi kemasan ini, karena bahan di sini kan melimpah. Apalagi kalau panen mending diolah sendiri,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Suliyanti memroses sendiri kopi robusta menjadi secara tradisional. Mulai panen, penggorengan, dan pengemasan semua dilakukan sendiri.
Tingkat kematangan dalam proses penggorengan juga dilakukan sesuai takaran alias tidak boleh asal.
Biasanya ia membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk per kilonya. ”Digoreng dengan ukuran api kecil,’’ tambahnya.
Baca Juga: Buah Manggis Jadi Andalan Desa Jarak, Wonosalam Jombang untuk Pengembangan Wisata dan Ikon Desa
Menurutnya, kopi robusta memiliki cita rasa yang khas dibandingkan kopi lain. Kopi ini dikenal dengan tingkat pahit yang lebih tinggi dibandingkan excelsa.
”Kalau kata penikmat kopi, robusta memiliki rasa pahit tapi ringan saat diseduh,” tandasnya.
Ia menjual kopi bubuk robusta dalam ukuran sedang, yakni 150 gram dengan harga Rp 15.000 per kemasan.
Menurutnya, harga itu cukup terjangkau untuk penikmat kopi. ”Ya sementara ini yang saya jual kemasan 150 gram,” papar dia.
Meski begitu, usaha rumahan itu dirasakan banyak membantu perekonomian keluarganya.
”Kalau dijual mentah kopi robusta mulai Rp 47.000 sampai Rp 50.000 per kilogramnya. Tapi kalau diolah seperti ini bisa meningkatkan nilai jual,’’ tambahnya.
Dalam memasarkan kopi buatannya, Suliyati hanya mengandalkan getok tular. Terkadang, ia juga melayani pemesanan secara online.
”Sementara itu, masih melayani pesanan di kalangan lokal saja,” pungkasnya.
Hasil Panen Capai 50 Ton Per Tahun
Potensi kopi robusta di Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam melimpah. Selain iklim yang mendukung, juga tanah yang luas dan subur.
Diperkirakan produktivitas kopi robusta dari Panglungan mencapai 50 ton per tahun.
Kepala Desa Panglungan Sugiat mengatakan, kopi robusta memang salah satu komoditas unggulan desanya. Per tahun, total panen mencapai 50 ton.
Baca Juga: Cobain Nih Wisata Baru di Wonosalam Jombang, Cocok untuk Refreshing Bareng Teman dan Keluarga
”Memang potensi kopi robusta di desa kami cukup melimpah. Dari total perkebunan kopi di desa kami, total potensi panen per tahun mencapai 50 ton,’’ ujar dia.
Dijelaskan, Desa Panglungan memiliki luas areal lahan perkebunan mencapai sekitar 520 hektare.
Selain komoditas kopi, sebagian lahan banyak yang ditanami komoditas durian, cengkeh, alpukat, manggis dan lain-lain.
”Namun untuk kopi hampir separonya dari total 520 hektare itu,’’ tambahnya.
Menurutnya, mayoritas petani kopi di Desa Panglungan lebih tertarik menanam kopi robusta.
Pasalnya, salah satu alasannya karena hasil produksi panen lebih tinggi dibandingkan kopi jenis lainnya.
”Robusta hasil panen lebih banyak, karena kulitnya tipis, dan bijinya tebal,” pungkasnya.
(ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW