JOMBANG - Wonosalam kaya akan potensi sumber daya alamnya. Salah satunya adalah alpukat, di Desa Sambirejo.
Alpukat khas Sambirejo dikenal dengan rasanya yang manis, segar serta dagingnya yang tebal.
Salah satu pembudi daya alpukat adalah Agus Arminto, 46, warga Dusun/Desa Sambirejo.
Sejak puluhan tahun, ia mengembangkan berbagai varietas alpukat baik lokal maupun impor.
”Saat ini saya sudah memiliki sekitar 200-an pohon yang produktif. Serta beberapa lainnya masih dalam pembibitan,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang (18/10).
Dijelaskan, ada banyak jenis alpukat yang dikembangkan petani Sambirejo.
Misalnya varietas lokal, markus, red Vietnam, hijau panjang, aligator, dan beberapa jenis lainnya.
”Apa pun jenis alpukat kalau ditanam di Wonosalam hasilnya bagus. Misalnya jenis markus ini, hasilnya lebih unggul dibandingkan di tanam di daerah lain,’’ jelas dia.
Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam sebenarnya sejak dulu dikenal dengan potensi buah alpukat.
Namun, seiring perjalanan waktu sempat mengalami penurunan.
Baca Juga: Harga Jualnya Stabil di Pasaran, Segini Penghasilan Petani Kapulaga di Wonosalam
”Akhirnya petani di sini mulai getol lagi mengembangkan alpukat dengan berbagai varietas alpukat,” terangnya.
Keunggulan alpukat Sambirejo, dikenal dengan rasanya yang manis dan segar.
Selain itu, dagingnya juga disebut lebih tebal dibandingkan alpukat daerah lain.
”Mungkin karena pengaruh iklim dan faktor alam lainnya sehingga hasilnya lebih unggul,’’ jelas dia.
Alpukat adalah jenis tumbuhan yang mudah hidup. Rata-rata warga menanam dengan cara tumpang sari. Beberapa sebagian juga ditanam di sekitar pekarangan rumah.
”Begitu juga perawatan, selama ini kami mempertahankan penggunaan pupuk kompos dari kotoran hewan,’’ pungkasnya.
Jadi Ikon Desa Sambirejo
Petani alpukat di Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam kini semringah. Selain hasil panen melimpah, harga jual buah yang berbentuk bulat lonjong ini juga bagus.
”Dalam sekali panen kita bisa memamen sekitar 50 kg per pohonnya. Kalau kita punya 10 pohon kan tinggal mengalikan,”ujar Agus Arminto, salah satu petani.
Alpukat yang ditanam warga Sambirejo rata-rata panen setiap tahun. Beberapa jenis alpukat ada yang dipanen sepanjang musim seperti jenis miki/cimpedak.
”Ya saat ini kami tengah mengembangkan jenis itu,” jelas dia.
Selain rasanya yang mantap, harga jual buah alpukat di pasaran juga relatif tinggi.
Sementara di tingkat petani harganya pun stabil mulai Rp 15- Rp 20 ribu per Kg untuk jenis lokal.
Sedangkan, untuk jenis lokal unggulan seperti miki, aligator, markus dan lain-lain di atas Rp 30 ribu per kg.
Dalam setiap panen, Agus mengaku bisa mendapat omzet sekitar Rp 10- Rp 15 juta.
”Sejauh ini untuk pengiriman rata-rata ke wilayah Jombang. Namun, juga dikirim ke Surabaya hingga Jakarta,” pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW