JOMBANG - Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kecamatan Wonosalam terus tumbuh.
Salah satunya, industri pembuatan sarung tangan dari bahan kulit sapi dan domba yang digeluti Siti Fatimah, 53, warga Desa Wonokerto, Kecamatan Wonosalam.
Selain nyaman dipakai, sarung tangan buatannya juga awet.
”Awalnya dulu membuat dompet. Namun, tidak bisa melanjutkan karena ada pandemi Covid-19,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (4/10).
Ia menceritakan, sebenarnya usaha produksi pembuatan dompet sudah berjalan cukup lama.
Seiring pandemi Covid-19, usahanya terdampak hingga gulung tikar.
Namun, ia tak patah semangat, berbekal keterampilan menjahit yang dimiliki, ia bangkit dan memutuskan merintis usaha pembuatan sarung tangan kulit.
”Ini baru memulai, belum ada setahun. Kebetulan punya pelanggan di Surabaya yang memesan sarung tangan dari kulit hewan ini,’’ tambahnya.
Adapun bahan kulit hewan yang digunakan untuk pembuatan sarung tangan adalah kulit sapi dan domba.
”Untuk bahan saya sementara ambil dari luar kota,’’ tambah ibu tiga anak ini.
Menurut Fatimah, proses pembuatan sarung tangan dari kulit cukup sederhana.
Pertama, bahan kulit dipotong sesuai desain dan ukuran yang diinginkan.
Kemudian, bahan dijahit dan digabungkan dengan kain perca.
”Prosesnya sederhana, tapi karena ini bahan baru jadi penjahit harus menyesuaikan,’’ tambahnya.
Dijelaskan, sarung tangan kulit yang ia produksi cocok digunakan untuk beragam aktivitas pekerjaan.
Misal untuk pekerja proyek, bengkel las dan kegiatan industri lainnya.
”Namun, yang memesan ini digunakan untuk melindungi tangan percikan api las,’’ terangnya.
Sarung tangan buatan warga Wonokerto ini memiliki kualitas yang bagus dan awet.
Ia memproduksi dua jenis sarung tangan. Selain itu, ia juga menambah kain perca sisa jahit baju di bagian dalam agar tangan tetap terasa dingin saat dipakai.
”Ya ini ada dua lapis, yang bagian luar adalah kulit dan yang dalam kain perca,’’ terangnya.
Karena keterbatasan pegawai, Fatimah baru bisa memproduksi rata-rata satu lusin alias 12 pasang sarung tangan per hari.
”Untuk sementara masih terbatas, karena keterbatasan bahan dan juga alat,’’ jelas dia.
Sarung tangan kulit buatan Fatimah dijual dengan harga beragam. Mulai Rp 17.000 hingga Rp 25.000 per pasang, tergantung kualitas.
”Namun, sementara belum dipasarkan untuk umum. Karena baru bisa melayani pesanan,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW