JOMBANG - Tradisi jamasan pusaka digelar warga Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung Kecamatan Wonosalam, Jombang saat gerebeg suro. Pusaka tersebut sebagai simbol keamanan yang menganyomi kampung adat.
Tradisi jamasan pusaka digelar setiap tahun saat memasaki bulan 1 Muharam atau bulan Suro.Tradisi jamasan berarti memandikan, menyucikan, membersihkan, merawat sekaligus memelihara pusaka peninggalan nenek moyang.
Pusaka peninggalan Mbah Tiari, keluarga kepala Desa Carangwulung era 40-an itu masih terawat dan terjaga dengan baik.
Proses penjamasan pusaka yang dilakukan di Balai Ageng Giri Kedaton berlangsung sakral. Seluruh warga kampung adat turut menyaksikan.
Sebelum dijamas, pusaka-pusaka itu diarak keliling kampung dengan penuh suka cita. ”Ya, sebelum kita adakan prosesi jamasan pusaka, terlebih dulu kita arak bersama seluruh warga,’’ ujar Ketua Kampung Adat Segunung Supi’i kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Dijelaskan, ada dua pusaka peninggalan leluhur. Yakni sebuah tombak dan keris. Prosesi penjamasan pusaka dilakukan oleh sesepuh desa dengan menggunakan media bunga tujuh rupa yang diiringi ikrar doa Jawa. ”Itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur,” jelas dia.
Dengan adanya tradisi itu, diharapkan keamanan dan ketenteraman warga kampung adat semakin terjaga.
Selain itu, tradisi itu digelar sebagai bentuk mempererat tali silaturahmi dan sekaligus bentuk ucapan rasa syukur kepada Allah SWT atas melimpahnya hasil panen tahun ini .
”Karena tidak dapat dipungkiri melimpahnya hasil panen tahun ini tak lain karena rahmat yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada kita semua,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW