Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Segarnya Budi Daya Selada Bersistem Hidroponik dari Wonosalam

Achmad RW • Kamis, 15 Juni 2023 | 14:05 WIB
Jakub Deki Sebayang, 40 petani di Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam tengah memanen selada.
Jakub Deki Sebayang, 40 petani di Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam tengah memanen selada.
JOMBANG – Wonosalam dikenal sebagai daerah penghasil tanaman holtikultura unggulan. Selain didukung faktor kondisi alamnya yang subur, para petani di wilayah lereng Gunung Anjasmoro ini juga semakin kreatif mengembangkan metode pertanian.

Salah satunya Jakub Deki Sebayang, 40, petani dari Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam ini sukses membudidayakan selada dengan metode hidroponik. ”Saya mulai budi daya selada dengan sistem hidroponik baru sekitar dua tahunan,” terangnya.

Menurutnya, budi daya tanaman selada dengan sistem hidroponik memiliki banyak keuntungan. Selain tidak membutuhkan lahan yang luas, pertumbuhan tanaman juga lebih cepat dibandingkan dengan metode menanam konvensional di tanah. ”Kalau dengan sistem hidroponik itu, tanaman selada bisa panen lebih cepat 2 minggu. Yang penting kita perhatikan nutrisi tanaman,” terangnya.

Selain itu, lanjut Deki, tanaman yang dihasilkan juga lebih bersih dan segar. Pasalnya, menanam dengan sistem ini tanpa membutuhkan media tanah. Sebagai media, ia membuat jaringan perpipaan yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk media tanam. ”Kita menggunakan bantuan air, makanya tanaman yang dihasilkan pun lebih bersih,” bebernya.

Agar pertumbuhan tanaman lebih maksimal, ia membuat rumah kaca atau greenhouse. ”Sebelum saya pakai greenhouse, beberapa serangga masuk dan menyerang tanaman. Namun, setelah pakai greenhouse bisa menekan serangan serangga sehingga minim hama,” tambahnya.

Bercocok tanam dengan metode hidroponik beratnya di awal. Sebab, petani harus membuat jaringan perpipaan, rumah kaca dan sebagainya. Namun, setelahnya perawatan lebih efektif. ”Karena sudah ada sistemnya, tinggal kita penuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Ya saya juga membuat pupuk organik sendiri sehingga tanaman lebih sehat,” imbuhnya.

Saat ini, dari sekitar 1.800 batang tanaman selada yang ia tanam, dalam sekali panen bisa mencapai 2 kuintal. ”Itu bisa dipanen dua minggu sekali. Hasilnya lumayan per panen bisa mendapat sekitar 2 kuintal selada,’’ ujar Deki.

Tak pelak, omzet yang didapatkannya pun lumayan tinggi. ”Kalau sebulan omzet sekitar Rp 7 juta. Itu dari hasil penjualan selada dengan harga Rp 25 ribu per kg,’’ tambahnya. Pemasaran selada tak hanya dijual di lokal Jombang. Sebagian juga dikirim hingga luar kota. ”Ya sebagian kita kirim ke Surabaya juga,” pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW
#hidroponik #Selada #Jombang #Agrikultur #Pertanian #wonderland wonosalam