”Ya kami mulai mengembangkan konsep pertanian smart farming berbasis teknologi digital ini sejak setahun terakhir,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (31/5).
Suyitno menambahkan, ia mengembangkan pertanian modern itu tidak sendirian, namun bersama kelompok tani hutan di desanya. Ia mengatakan, mengembangkan model pertanian modern memang butuh modal cukup besar. Di antaranya untuk pemasangan instalasi perpipaan, listrik, perangkat keras, perangkat lunak, lampu dan lain-lain. ”Ya modal awal mungkin sekitar Rp 60 juta. Namun, keunggulan dari pertanian modern itu dapat menekan biaya perawatan, pemupukan hingga penyiraman semaksimal mungkin. Jadi memang lebih efisien. Baik tenaga, kebutuhan pupuk, dan air jadi lebih hemat 90 persen,” jelas dia.
Ia mencotohkan untuk pemupukan dan penyimaran, semuanya bisa dikontrol lewat smartphone miliknya. Untuk mengoperasikan itu, ia bersama kelompok tani membuat aplikasi sistem pertanian berbasis android yang bisa memerintah kegiatan pertanian dari smartphone. ”Semua bisa terukur, bahkan kita bisa mengatur dengan timer jumlah kebutuhan pupuk dan air per harinya,” jelas dia.
Suyitno mengaku, dalam mengembangkan pertanian modern itu butuh melakukan eksperimen berulang-ulang. Beberapa kali percobaan dan pengembangan terus dilakukannya hingga kini. ”Terutama mensinkronisasikan antara aplikasi dengan sistem perkebunan itu lumayan ribet. Karena ini kami rintis dari nol,” jelas dia.
Di kebun bibit durian dan alpukat seluas 3 hektare itu, ia memiliki sekitar 6.000 bibit. Ia sudah memulai budi daya pembibitan buah sejak 2013. ”Kalau pembibitan sudah saya lakukan sejak 2013,” imbuhnya.
Penerapan metode smart farming mulai dirasakan dampaknya. Salah satunya pada peningkatan kualitas bibit. ”Menurut kami kualitas tanaman lebih unggul. Hasilnya juga sangat bagus,” ujar dia.
Menurutnya, hal tersebut karena asupan nutrisi dan penyiraman lebih terukur secara proporsional dengan kebutuhan tanaman. ”Karena jumlah takaran air dan pupuk yang kita berikan lebih terukur dan lebih pas, karena dikontrol melalui aplikasi,” tambahnya.
Harga bibit durian yang alpukat yang dijual Suyitno bervariatif, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1,5 juta per batang. Harga tersebut tergantung dari usia dan kualitas tanaman. ”Semua tanaman kami sudah memiliki label dan terdaftar di kementerian. Ini berbeda dengan bibit bibit yang dijual petani lain,” papar dia. Pemasaran bibit hasil budi daya Suyitno bahkan sudah tembus hingga luar Jawa. Beberapa kali pelanggan asal Manado, Sumatra dan Kalimantan pesan pada dirinya. ”Dari Surabaya dan Jakarta juga ada,” pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW