Salah satu warga sukses mengembangkan usaha pembuatan keripik pisang, yakni Riasih, 40, warga warga Dusun Plumpung, Desa Galengdowo. ”Awalnya coba-coba, alhamdulillah sekarang semakin berkembang,” terangnya.
Riasih mulai merintis usaha pembuatan keripik pisang sekitar 2019. Ia terinspirasi mengembangkan usaha camilan ini lantaran melihat panen buah pisang di wilayahnya yang melimpah di wilayahnya. ”Untuk bahan baku pisang saya pilih jenis pisang raja nangka. Stoknya melimpah di sini. Kualitasnya juga sangat bagus,” terangnya.
Selain stoknya melimpah dan harganya terjangkau, jenis pisang raja nangka dinilai cocok untuk bahan pembuatan keripik pisang. ”Teksturnya tidak lembek dan ukurannya besar sehingga cocok kalau untuk dibuat keripik pisang,” terangnya.
Biasanya ia tinggal memesan kepada petani. Harganya cukup terjangkau. Per tandan pisang jenis raja nangka bisa ia dapatkan dengan kisaran harga Rp 30-Rp 50 ribu. ”Kalau untuk bahan keripik saya tidak kesulitan, karena banyak yang menjual di sini,” tambahnya.
Ibu dua anak ini menjelaskan, proses pembuatan keripik pisang ini sangat sederhana. Pertama-tama bahan baku pisang terlebih dulu dikupas untuk meghilangkan kulitnya sampai bersih. Setelah bersih, selanjutnya dibentuk tipis-tipis dengan alat khusus. Setelahnya siap digoreng. ”Digoreng 3 kali, penggorengan pertama mengeringkan, kedua memberi rasa dan ketiga menghilangkan tekstur dari bekas gula,” papar dia.
Riasih mengemas keripiknya dalam tiga kemasan. Kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp 12 ribu, kemasan 100 gram Rp 6 ribu dan kemasan 1 Kg dengan harga Rp 55 ribu. ”Untuk pemasaran paling banyak di area Jombang, Kediri dan Surabaya,” tandasnya.
Memasuki Ramadan, pesanan keripik pisang semakin meningkat. Per hari ia mampu membuat hingga 50 kilogram keripik. ”Ya naik dibandingkan hari biasa. Kalau hari biasa sekitar 25 kilogram, kalau Ramadan atau hari raya Natal bisa 50 kilogram dalam sehari,” pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW