Salah satu warga yang berhasil membuat olahan ketan durian, yakni Ino Prabowo, 27, warga Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam. Ino terinspirasi membuat ketan durian setelah melihat hasil panen durian yang melimpah di wilayahnya. Berbekal resep yang diwarisi dari keluarganya, ia berhasil membuat olahan ketan durian khas Wonosalam.
”Ya sejak akhir Desember lalu, stok durian di Wonosalam khususnya di Desa Panglungan sangat melimpah, untuk itu saya mencoba membuat olahan durian yang bisa dinikmati dengan cara berbeda,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Untuk menghasilkan aroma harum, Ino membuat wadah ketan duriannya dengan daun pandan. Daun pandan ini menghasilkan aroma dan citarasa yang kuat. ”Sementara untuk membuat fla durian saya menggunakan perpaduan durian lokal dan durian simas,” tambahnya.
Dipilihnya durian lokal dan simas, adalah untuk menghasilkan warna kuning alami. Sedangkan, durian lokal menjadikan olahan ketan duriannya lebih lumer dan tidak enek ketika disantap. ”Keunggulan durian lokal Panglungan adalah manis legitnya. Lalu durian simas ini adalah durian nonkolestrol, namun menghasilkan warna kuning pekat,” tambahnya.
Untuk membuat ketan durian, tahap awal yang disiapkan adalah olahan ketan. Ia mencampurkan daun pandan sebagai pewarna hijau alami. Sementara untuk membuat fla durian, pertama memilih durian dengan kualitas bagus. ”Setelah itu kita blender, lalu kita masak selama 30 menit dengan cara diaduk dan mencampurkan beberapa bahan,” terangnya.
Pecinta durian yang penasaran menyantap olahan ketan durian bikinan Ino bisa berkunjung ke warungnya di Jl Joko Mujung RT 5 RW 6 Desa Panglungan. Rutenya juga cukup mudah diakses. ”Ketan durian ini bisa bertahan tujuh hari di kulkas dan dua hari jika dibiarkan di ruangan terbuka,” pungkasnya.
Cocok Jadi Oleh-Oleh
SEMENTARA itu, ketan durian khas Wonosalam olahan Ino Prabowo kini mulai dikenal banyak kalangan. Sejumlah pejabat, mulai dari Wakil Bupati Jombang Sumrambah, anggota DPRD hingga pejabat lainnya sudah merasakan nikmatnya olahan makanan paduan ketan yang empuk dan fla durian.
”Ya waktu kami buka stan di bazar Wonosalam, pak wabup mencicipi olahan ketan durian bikinan kami. Beliau suka dan mendukung UMKM Wonosalam bisa go public,” ujar Ino kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Tak hanya wabup, beberapa pejabat lain termasuk anggota legislatif juga memborong olahan ketan durian Wonosalam. ”Karena kemasannya yang unik dan simpel membuat ketan durian ini cocok jadi oleh-oleh,” terangnya.
Dalam sehari, permintaan ketan durian tembus ratusan box. Ino mencatat, pesanan yang masuk paling sedikit 100 box dan paling banyak 250 box sehari. ”Dikirimnya paling banyak ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Tangerang,” tambahnya. Saat ini, dia bahkan sudah bekerja sama dengan sejumlah reseller di beberapa kabupaten/kota. ”Satu box ketan durian diisi dengan 10 pcs ketan durian. Per box ia hargai Rp 35 ribu. ”Namun kalau reseller yang beli, kita beri harga khusus,” pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW