Salah satunya ditenuki Zaenal Arifin, warga Dusun Tukum. Di kebun belakang rumahnya itu, ia menanam sekitar 2.146 pohon vanili yang sudah berusia sekitar empat bulan. ”Tanaman ini saya tanam mulai Agustus lalu,” terangnya sembari merawat tanamannya, kemarin (30/11).
Dijelaskan, tanaman vanili merupakan satu rumpun dengan bunga anggrek. Selain perawatan mudah, tanaman vanili juga tahan banting sehingga dibudidayakan. ”Namun tanaman ini membutuhkan tanjar atau pohon sebagai rambatan. Salah satu tanaman yang bisa digunakan tanjar adalah tanaman reside,” tambahnya.
Manfaat tanaman vanili biasa dijadikan bubuk pengharum makanan. Penjualan rata-rata dijual keluar kota. ”Ya untuk penjualan kami sudah kerja sama dengan mitra sehingga kalau sudah panen mereka nanti ke sini untuk ambil,” papar dia.
Menurut dia, vanili adalah tanaman yang mudah ditanam. Perawatan tanaman ini tidak ribet, hanya cukup dipupuk diawal tanam dan menjelang berbunga.
Selain itu, sesekali akar tanaman yang tidak menjalar pada tanjar diarahkan agar bisa tumbuh dengan baik. ”Untuk pupuk kita menggunakan organik. Karena selain dapat menyuburkan tanah juga lebih aman untuk tanah,” jelas dia.
Zaenal menambahkan, harga jual vanili cukup menggiurkan. Per kilogramnya dengan bunga panjang sekitar 15 cm bisa tembus Rp 250 ribu. Sedangkan, jika ukuran kurang dari 15 cm dijual di bawah Rp 250 ribu. ”Memang itu kriteria yang diinginkan pabrik,” papar dia.
Meski begitu, ada tantangan tersendiri dalam membudidayakan vanili. Yakni, dalam pemupukan harus dilakukan dengan cermat dan benar. ”Jika tidak, potensi muncul jamur pada tanaman,” pungkasnya.
Wabup Dukung Petani Wonosalam Budi Dayakan Vanili
WAKIL Bupati Jombang Sumrambah mendukung upaya petani Wonosalam mengembangkan budi daya tanaman vanili. Pasalnya, selain perawatan mudah, harga jual vanili di pasaran juga tinggi. Sehingga diharapkan bisa menjadi daya ungkit perekonomian warga.
”Kami telah memantau bersama-sama bagaimana budi daya vanili di Wonosalam. Jadi budi daya vanili memang memberikan prospek yang menjanjikan untuk penguatan ekonomi,” ujar dia.
Budi daya vanili tidak harus dilakukan di lahan yang luas, namun bisa dimulai dengan lahan sekitar rumah atau pekarangan. ”Dengan lahan yang kecil kita juga bisa mulai membudidayakan vanili. Sehingga kita bisa berdaulat secara ekonomi,’’ tambahnya.
Ia mengajak seluruh petani agar belajar budi daya vanili. Ia juga meminta para kepala desa menyosialisasikan bagaimana prospek membudidayakan vanili. ”Karena ternyata vanili tidak hanya tumbuh di lahan dpl (di atas permukaan laut) yang tinggi, di dpl yang rendah juga bisa hidup. Dan, secara ekonomi sangat menjanjikan,” pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW