Cerita turun temurun yang beredar di masyarakat, Gua Jepang sudah ditemukan sejak dulu. Dinamakan Gua Jepang karena dibangun saat masa penjajahan Jepang. Untuk dapat mengakses Gua Jepang, rute yang dilalui cukup sulit. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Desa Galengdowo. Jalurnya, sama dengan jalur menuju air terjun Tretes Pengajaran. ’’Satu jalur dengan air terjun Tretes Pengajaran,’’ ujar Endon Siswoyo, warga setempat kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (12/10).
Gua Jepang juga disebut warga setempat sebagai gua perlindungan. Pasalnya, tempat itu dibuat untuk berlindung dari peperangan. ’’Gua perlindungan ini dibuat atas perintah Jepang untuk berlindung atau bersembunyi. Juga tempat untuk menyimpan bekal, baik itu persenjataan atau bahan-bahan yang lain,’’ sambungnya.
Gua tersebut, dulunya dibangun warga pribumi atau warga di sekitar Pengajaran, Galengdowo. Sekilas, bentuknya terlihat kecil. Jika ditengok ke dalam mulut gua, tampak ruangan cukup besar yang bisa menampung lebih dari 10 orang. ’’Kedalamannya ada yang empat meter, ada yang enam sampai tujuh meter,’’ paparnya.
Disitu ada empat gua yang ditemukan warga. Satu gua belum memiliki lubang. Tiga gua sudah memiliki lubang dengan lebar dan ketinggian berbeda. ’’Di dekat kebun anggrek Pak Suyanto belum jadi gua, masih cekungan. Namun di tiga titik sudah jadi lubangnya,’’ paparnya.
Saat ini, keberadaan gua tersebut masih belum banyak diketahui warga luar. Namun warga setempat sudah mengetahui dan tak asing dengan keberadaannya. ’’Dulu sebelum pandemi, sering dikunjungi warga yang penasaran,’’ ungkapnya.
Potensi Wisata Alam, Sayangnya Masih Terkendala Jalan
MASIH belum banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Gua Jepang salah satunya karena akses yang dilalui cukup sulit. Lokasinya berada di tengah hutan. Jalur untuk mengakses Gua Jepang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi ini menambah tantangan dan keseruan bagi para pecinta alam.
Gua Jepang berada di hutan milik Perhutani. Untuk mengunjungi gua ini, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 15 menit dari jalur utama menuju air terjun Tretes Wonosalam. ’’Memang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Roda dua hanya bisa sampai jalur utama menuju Air Terjun Tretes,’’ ujar Endon Siswoyo, warga setempat.
Sejauh ini, Pemerintah Desa Galengdowo belum ada rencana mengelola Gua Jepang menjadi wisata. Kepala Desa Galengdowo, Wartomo, membenarkan, Gua Jepang memang memiliki potensi yang unik untuk dijadikan wisata. Namun tantangannya, harus memperbaiki akses jalan lebih dulu. ’’Memang rencana kami ke depan ingin mengelolanya, namun butuh persiapan termasuk memperbaiki akses jalan,’’ ucapnya. (ang/jif/riz) Editor : Achmad RW