Kopi lanang ini bukan merupakan varietas baru. Penyebutan nama kopi lanang lantaran bentuk bijinya berbeda dengan kopi pada umumnya. Lanang berarti laki-laki dalam bahasa Jawa.
Bentuk biji kopi ini tunggal dan cenderung bulat, tidak terbelah seperti bentuk biji kopi pada umumnya. Kopi lanang bisa dihasilkan oleh pohon kopi jenis robusta, liberika termasuk arabika yang pada umumnya ditanam petani kopi. ”Penyebutan kopi lanang mungkin masih terdengar sedikit aneh bagi masyarakat umum. Tapi di Wonosalam, sudah biasa dengan istilah kopi ini,” terang Imam Choiril, 30, petani kopi asal Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Iril sapaan akrabnya menambahkan, kopi lanang sebenarnya hasil sortiran kopi biasa saat panen. Jadi bukan dari hasil pembudidayaan khusus. Pada satu dompol buah kopi yang dipanen, akan muncul perbedaan fisik yang jelas antara buah penghasil biji kopi tunggal (lanang) dan biji kopi ganda (normal). ”Biji kopi pada umumnya bentuknya agak lonjong, tapi kalau biji kopi lanang bentuknya cenderung bulat,” papar dia.
Usai dipanen, biji kopi dijemur di bawah terik matahari selama sekitar dua minggu, tergantung cuaca. Setelah itu, baru disortir mana biji kopi lanang dan mana biji kopi biasa.
Dibandingkan dengan biji kopi biasa (normal), biji kopi lanang sangat terbatas jumlahnya. Pada satu dompol buah kopi, paling hanya ditemukan beberapa biji kopi lanang. Karenanya wajar jika stok biji kopi lanang yang dijual di pasaran pun terbatas. ”Jadi harus sabar menyortir untuk bisa mendapatkan kopi lanang,” bebernya.
Namun demikian, kesabaran Chairil menyortir kopi lanang bukannya tanpa hasil. Sebab, selain jumlahnya yang terbatas, kopi lanang mimiliki citarasa yang khas dibandingkan kopi biasa. Selain itu, keistimewaan lain dari jenis kopi ini, dipercaya bisa meningkatkan stamina pria. ”Ya, kalau kata orang-orang memang bisa menambah stamina bagi pria. Selain itu, kopi ini juga bisa menambah kekebalan tubuh,” sambung Iril.
Karena keistimewaannya itu, komoditas kopi lanang memberikan nilai tambah tersendiri bagi petani. Dibandingkan dengan harga kopi biasa, harga biji kopi lanang dipatok lebih tinggi. ”Harganya memang lebih mahal dibandingkan biji kopi biasa. Per kilogram sekitar Rp 50 ribu,” imbuh pria yang memulai merintis usaha budi daya kopi lanang sejak 2018 ini. Disinggung terkait perbedaan rasa kopi lanang dengan kopi biasa, Iril menyebut beberapa pelanggannya menilai rasa kopi lanang lebih kuat. ”Jadi kalau kopi lanang jenis ekselsa, rasa asamnya lebih kuat,” singkat Iril. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW