Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Budi Daya Ulat Hongkong di Desa Carangwulung ini Pasarnaya Sampai Ibu Kota

Achmad RW • Kamis, 7 Juli 2022 | 15:03 WIB
Iswoyo, 48, menunjukkan Budi Daya ulat hongkong di rumahnya, Dusun Segunung, Desa Carangwulung kemarin (6/7).
Iswoyo, 48, menunjukkan Budi Daya ulat hongkong di rumahnya, Dusun Segunung, Desa Carangwulung kemarin (6/7).
JOMBANG - Kecamatan Wonosalam tak hanya dikenal dengan daerah penghasil susu sapi segar. Bahkan, warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung berhasil membudidayakan ulat Hongkong. Salah satunya digeluti Iswoyo, 48, selama satu dekade terakhir.

Di rumahnya, warga Dusun Segunung ini memiliki ratusan tempat penangkaran ulat Hongkong. Setiap 10 hari sekali, ia mampu memanen sekitar 8 kuintal ulat hongkong untuk dijual ke berbagai daerah termasuk Ibu Kota Jakarta. ”Saya awalnya belajar ke kakak saya yang ada di Blitar. Dari pertama kali coba-coba 50 kilogram ulat hingga 10 tahun ini meningkat bisa memproduksi 8 kuintal sekali panen per 10 hari sekali,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Dijelaskan, budi daya ulat Hongkong bisa dibilang cukup mudah. Yang diperlukan adalah telaten dan ulet dalam merawat. Proses perkembangbiakan ulat dimulai dari telur, larva, kepompong dan kumbang. ”Ada beberapa proses dalam budi daya ulat Hongkong. Mulai dari indukan yang menghasilkan telur. Kemudian telur jadi larva. Ulat jadi kepompong dan kepompong jadi kumbang. Mulai proses telur menjadi bisa dijual membutuhkan waktu selama 50 hari,’’ jelas dia.

Ulat Hongkong umumnya dimanfaatkan untuk pakan burung kicauan, pakan ikan Arwana dan berbagai jenis hewan reptil hias lain, seperti ular, landak mini, hingga hamster. ”Tapi di luar negeri ada yang diolah menjadi produk makanan. Hanya saya di sini fokus proses budi dayanya,’’ tambahnya.

Harga ulat Hongkong saat ini terus bersaing. Di pasaran, mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Ia mengaku, selama ini hasil panen dijual ke pengepul yang ada di Bareng. Namun, pengepul tersebut terkadang juga menjual ulat Hongkong milik Iswoyo ke berbagai daerah termasuk Jakarta. ”Saya bagian menyediakan saja. Yang menjual ada sendiri dari pengepulnya,’’ tandasnya.

Budi Daya yang ditekuni Iswoyo juga turut mengdongkrak perekonomian warga sekitar. Pasalnya, tercatat ada sekitar 18 warga setempat yang turut membantunya mengembangkan budi daya ulat Hongkong. ”Kalau yang ibu-ibu biasanya membantu memilah ulat kumbang setiap pagi hari. Kalau bapak-bapak memilah telur dan ulat hingga pukul 14.00 siang,’’ pungkasnya.

Selanjutnya....

Berdayakan Warga  Sekitar

SELAIN mendapatkan omzet yang besar, dari usahanya mengembangkan budi daya ulat Hongkong, Iswoyo juga bisa memberdayakan warga sekitar yang membantunya membudidayakan usaha kreatif ini. Tak tanggung, ada sekitar puluhan warga yang membantunya merawat ulat Hongkong.

Giri Winarko, Kasun Segunung membenarkan ada puluhan warganya yang bekerja di peternakan ulat Hongkong. ”Di rumah pak Iswoyo sendiri ada sekitar 20-an. Itu belum di beberapa peternak lain. Artinya dengan adanya peternakan atau budi daya ulat Hongkong ini sangat membantu warga sekitar,’’ ujar dia (6/7).

Dijelaskan, tak hanya laki-laki yang bekerja menjadi buruh ternak ulat Hongkong. Bahkan ibu-ibu juga bisa membantu dalam proses budi daya itu. ”Kebetulan di Segunung ada empat peternak ulat Hongkong, tapi kemarin karena masalah kesehatan, akhirnya dua pemilik ternak berhenti produksi. Dan kini tinggal dua peternak yang aktif,’’ pungkasnya. (ang/naz) Editor : Achmad RW
#budidaya ulat hongkong #Jombang #carangwulung #pasat luar kota #wonderland wonosalam