Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Melegenda sejak 1980, Hasil Menggembala Lebah di Hutan

Rojiful Mamduh • Kamis, 24 Februari 2022 | 15:24 WIB
Photo
Photo
WONOSALAM dikenal menjadi salah satu daerah penghasil madu hutan. Salah satunya digeluti Samsiran, 60, warga asal Dusun/Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam yang sukses membudidayakan lebah madu dengan sistem gembala. Dalam sekali panen, Samsiran bisa menghasilan ratusan kilogram madu, bahkan saat musim bunga hasil panen madu bisa mencapai lima kuintal per bulan.

Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Samsiran menceritakan usaha budidaya lebah madu sudah dia geluti sejak 1980-an. Saat itu pria asli Magetan ini mendapat tugas mengajar di Jombang, tepatnya di Desa Sambirejo.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Wonosalam, ia tinggal di rumah salah satu warga setempat bernama Salam. ”Kebetulan Pak Salam punya penangkaran lebah hutan atau lebah liar. Sepulang mengajar saya diajak berburu lebah hutan di pohon atau balik bongkahan batu,’’ ungkap Samsiran.

Dengan peralatan seadanya, Samsi belajar cara menangkar lebah hutan dan mengolah hasil madunya. Namun sayang, usahanya belum membuahkan hasil maksimal. Lebah hutan yang dibudidayakan enggan menempati tempat penangkaran buatan Samsi, dan memilih kembali ke hutan. ”Kemudian 1992, saya mengikuti pelatihan di Pusat Perlebahan Nasional, Bogor.  Kita dapat pengalaman untuk beternak lebah jenis Avis Mellifera dengan sistem gembala,’’ jelas dia.

Berkat pengalamannya selama mengukuti pelatihan, Samsi berhasil membudidayakan Lebah jenis Avis Mellifera. Berbeda dengan lebah hutan biasa, Lebah jenis ini memiliki kantong yang lebih besar. ”Sehingga bisa membawa nektar (sari bunga) lebih banyak. Dan lebah jenis ini produktivitasnya lebih tinggi dalam menghasilkan madu,” papar dia.

Selama 29 tahun menangkar lebah, kini Samsi sudah memiliki 250 kotak yang dihuni jutaan koloni yang siap digembala. Tidak hanya di Wonosalam saja, Samsiran tak jarang menggembala lebahnya ke sejumlah daerah lain saat di Wonosalam sedang tak musim bunga.

Misalnya saat ini, dia tengah menggembala lebahnya di wilayah Dusun Karanturi, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo yang sedang musim bunga krai, mentimun dan kangkung. ”Namun tetap pengolahan kami di sini,’’ terangnya.

Sesuai musimnya, ratusan kotak lebah akan kembali digembala di Wonosalam pada musim bunga kopi Oktober mendatang. Menurut dia, madu yang dihasilkan dari nektar (sari bunga) kopi memiliki rasa, kekentalan dan khasiat yang khas. ”Di Wonosalam ada banyak jenis madu yang dihasilkan. Misalnya madu bunga Kaliandra, kopi, mangga, dan lain-lain. Kalau bunga kopi rasanya manis dan wangi,’’ terang bapak enam anak ini.

Pada musim bunga, kata Samsi, ia bisa menghasilkan hingga lima sampai delapan kuintal per panen dari 250 kotak lebah itu. ”Musim bunga itu dimulai pada Mei sampai Desember,’’ pungkasnya.

Seiring perkembangannya, saat ini madu Samsi sudah dikenal di kalangan masyarakat luas. Bahkan sudah memiliki jaringan agen hingga ke luar kota. Editor : Rojiful Mamduh
#Lebah di Hutan #wonderland wonosalam #Madu Pak Samsi #Melegenda