Salah satunya dilakukan, Suyanto, 47, warga Galengdowo. Kebiasaan berburu klanceng hutan sudah dia lakukan sejak 2014. Dari hasil penangkaran madu klanceng hutan miliknya, ia berhasil meraup penghasilan hingga jutaan rupiah.
”Klanceng hutan berkembang biak sangat banyak di sini. Biasanya tinggal di pohon yang mati atau di antara semak-semak,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Ia mengaku sering masuk ke hutan untuk berburu klanceng. Alat yang dibawa simple, hanya bermodalkan potongan bambu sepanjang 50 sentimeter yang dilubangi kecil untuk rumah klanceng. ”Kalau mencari saya cuma bawa bambu ini untuk rumah klanceng,” jelas dia.
Ia menyebut, klanceng merupakan jenis lebah yang tak menyengat. Dalam satu koloni biasanya ada seekor ratu. Nah, ratu itu yang ditangkap untuk dimasukkan bambu. ”Kita tunggu satu jam maka lebah pengikut lainnya akan masuk ke bambu kita,” jelas dia.
Untuk menangkar klancengnya, ia sengaja tak menempatkannya di rumah atau di permukiman yang dekat penduduk. Pasalnya, klanceng biasanya akan pindah ketika tak nyaman dengan lingkungan baru yang bising.
Untuk itu, Suyanto menempatkannya di dalam hutan atau di kandang kambing yang juga terletak di hutan. ”Saya punya enam tempat untuk klanceng,” papar dia.
Untuk perawatannya pun sangat mudah. Ia hanya menyediakan tempat kemudian membiarkan klanceng untuk mencari makan sendiri dengan menghisap bunga yang ada di hutan. ”Dengan enam tempat klanceng, saya biasanya panen dua bulan sekali atau tiga bulan sekali. Kalau musim hujan seperti ini, karena tumbuhan rata-rata tidak berbunga,’’ terang bapak dua anak ini.
Sekali panen, madu yang dihasilkan klanceng tidak begitu banyak. Dari enam tempat penangkaran miliknya, hanya bisa menghasilkan sekitar 300 mililiter. ”Itupun kadang tidak penuh,” tandasnya.
Dari segi rasa, madu klanceng juga berbeda dengan lebah madu pada umumnya. Rasanya cenderung manis bercampur asam pahit. ”Memang rasanya ada pahitnya. Tapi kata orang itu yang berkhasiat,’’ pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh