JOMBANG – Merantau ke luar negeri untuk menempuh pendidikan menjadi pilihan Aurellia Wijaya.
Gadis asal Dusun Pagotan, Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan itu kini menempuh kuliah di Southern Taiwan University of Science and Technology (STUST), Taiwan.
’’Saya juga bekerja part time untuk membiayai kebutuhan pendidikan,’’ kata putri pasangan Winarno Wijaya dan Umil Khamidah.
Gadis kelahiran 9 Oktober 2004 ini sebelumnya menempuh pendidikan di SD Wijana Jombang, SMPN 1 Jombang, kemudian SMKN 1 Jombang jurusan Multimedia.
Setelah lulus SMK pada 2023, Aurellia sempat bekerja. Namun, keinginan melanjutkan pendidikan tetap ada.
Dia kemudian mencari peluang kuliah di luar negeri yang memungkinkan mahasiswa bekerja sambil belajar. Pilihan itu diambil karena Aurellia tidak ingin membebani kedua orang tuanya yang bekerja di pabrik sekaligus membuka toko sembako.
’’Saya sebenarnya ingin kuliah, tetapi kalau kuliah di Indonesia biayanya cukup besar dan biasanya masih harus menggunakan uang orang tua.
Saya tidak mau membebani orang tua, sehingga terpikir kuliah di luar negeri yang bisa sambil bekerja supaya bisa membiayai kuliah sendiri,’’ ungkapnya.
Kesempatan itu datang ketika SMKN 1 Jombang memberikan informasi mengenai program kuliah di Taiwan.
Aurellia kemudian mengikuti program 1+4, yakni satu tahun pertama untuk belajar bahasa Mandarin dan dilanjutkan empat tahun masa perkuliahan. Dia berangkat ke Taiwan pada 2025 dan kini telah memasuki tahun kedua.
Berbeda dengan latar belakangnya di bidang multimedia, Aurellia memilih Manajemen Perhotelan. Seluruh proses perkuliahan menggunakan bahasa Mandarin.
Termasuk buku referensi dan pelaksanaan ujian. Ini menjadi tantangan tersendiri karena sebelum berangkat ke Taiwan dia sama sekali belum menguasai bahasa Mandarin.
’’Waktu pertama datang, saya benar-benar tidak paham bahasanya. Jadi memang harus belajar dari awal. Saya juga sering menonton film Mandarin dan mendengarkan lagu Mandarin sambil memahami artinya. Ternyata cara itu cukup efektif karena belajar bahasa menjadi lebih menyenangkan,’’ tuturnya.
Selain kuliah, Aurellia bekerja paruh waktu di hotel setiap Sabtu dan Minggu. Sementara Senin hingga Jumat digunakan untuk mengikuti perkuliahan
. ’’Saya pernah merasa bingung karena setelah kuliah sudah capek dan pusing, tetapi harus bekerja lagi. Untungnya ada beberapa hari kuliah yang jadwalnya tidak terlalu padat, sehingga masih ada waktu untuk istirahat dan belajar,’’ urainya.
Baca Juga: Cerita Fajriyah Nurrohmah, Alumnus SMKN 1 Jombang yang Kuliah di Taiwan Berkat Beasiswa
Program yang diikutinya memberikan beasiswa sebesar 60 persen. Sedangkan kebutuhan lainnya dibantu dari penghasilan kerja part time. Skema itu membuatnya bisa menjalani pendidikan tanpa bergantung kepada orang tua.
’’Calon mahasiswa yang ingin kuliah ke luar negeri perlu menyiapkan mental,’’ ucapnya.
Sebab, kehidupan jauh dari keluarga menuntut kemandirian.
Kemampuan bahasa juga menjadi bekal penting agar dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan.
’’Yang paling penting mental harus kuat. Ketika datang ke Taiwan, kita jauh dari orang tua dan harus bisa mengurus diri sendiri.
Bahasa juga perlu dipelajari sedikit-sedikit supaya kita mengerti apa yang dibicarakan orang,’’ ungkapnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, dia masih ingin bekerja di Taiwan.
Selain pendidikan, pengalaman tinggal di luar negeri juga membuatnya semakin tertarik mengembangkan kemampuan dan mewujudkan cita-citanya menjadi pebisnis.
Meski begitu, kehidupan di Taiwan menurutnya tidak selalu mudah.
Transportasi umum yang nyaman menjadi salah satu hal yang dia sukai. Namun, bergaul dengan masyarakat lokal menjadi tantangan karena perbedaan bahasa dan karakter kehidupan yang menurutnya lebih individual.
’’Di taiwan kemana-mana mudah, transportasi umum di sini sangat mendukung,’’ ujarnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto