JOMBANG – Dua puluh tahun mengabdi di dunia pendidikan tinggi kesehatan bukan perjalanan yang ringan.
Butuh konsistensi, kesabaran, dan keinginan untuk terus belajar.
Itulah yang dijalani Pepin Nahariani, S.Kep., Ns., M.Kep.
Kini, di usia kariernya yang sudah matang, semangat belajarnya seolah tak penah surut.
Kini Ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Malaysia, dengan dukungan beasiswa dari STIKES Pemkab Jombang.
Perempuan kelahiran Kediri, 28 November 1982, ini mulai melangkahkan kaki di STIKES Pemkab Jombang pada Desember 2006.
Sebelum itu, setelah menuntaskan pendidikan S1 Keperawatan di Universitas Airlangga (Unair), Pepin lebih dulu mengabdi di Bhakta Wiyata Kediri, sebuah lembaga pendidikan kesehatan.
"Setelah lulus saya kerjanya di Bhakti Wiyata Kediri.
Baca Juga: Dosen Keperawatan Ini Punya Cara Tak Biasa Jaga Kebugaran di Tengah Padatnya Aktivitas Kampus
Kemudian setelah itu saya bergabung di sini, pindah di STIKES Pemkab Jombang itu Desember 2006,” kenang Pepin.
Perjalanan kariernya di STIKES Pemkab Jombang dimulai sebagai dosen biasa.
Hanya berselang setahun, ia sudah dipercaya menjadi sekretaris Program Studi S1 Keperawatan.
Tangga karier itu terus menanjak.
Pada 2017, ia dipercaya memimpin sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) S1 Keperawatan.
Dua tahun kemudian, pada 2019, amanah baru datang sebagai Kaprodi Pendidikan Profesi Ners.
Jabatan itu diembannya hingga 2023, sebelum kemudian ia dipercaya menempati posisi lebih strategis sebagai Wakil Ketua II STIKES Pemkab Jombang, membidangi keuangan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia (SDM).
Jauh sebelum menapaki jenjang-jenjang itu, dunia keperawatan sudah menarik hati Pepin.
Alasannya sederhana, ia ingin merawat orang yang sedang sakit.
”Jiwa ingin merawat itu ada.
Orang sakit itu butuh perawatan.
Kemudian alasan kedua karena memang bisa merawat diri sendiri dan keluarga,” jelasnya.
Namun jalan hidup kerap membawa kejutan.
Meski jiwa merawatnya begitu kuat, Pepin justru tak pernah benar-benar bekerja sebagai perawat di lapangan.
Dunia pendidikan rupanya membuka ruang yang lebih luas baginya untuk mengembangkan ilmu.
”Awalnya karena ingin jiwa perawat, kemudian beralih ke pendidikan karena ingin lebih fokus mengembangkan keilmuan.
Dengan kita mengajar itu bisa berbagi ilmu,” ujarnya.
Sebagai dosen, ia merasakan kepuasan yang berbeda, melihat ilmunya bermanfaat bagi lebih banyak orang, serta rasa bangga tersendiri kala menyaksikan para alumninya sukses di jalan masing-masing.
Namun cerita Pepin belum berhenti di situ.
Meski sudah mengantongi pengalaman panjang sebagai dosen sekaligus duduk di jajaran pimpinan kampus, semangat belajarnya tak pernah surut.
Kini, ia tengah menempuh pendidikan S3 Ilmu Keperawatan di Lincoln University College Malaysia, yang mulai dijalaninya sejak 2024 dan masih berlangsung hingga kini.
”Saya ingin dapat pengalaman yang lebih di luar negeri.
Karena S1, S2 saya di Unair, sehingga pengennya kalau di luar negeri cara belajarnya berbeda,” katanya.
Perkuliahan memang dilakukan secara daring, sehingga tidak mengganggu aktivitasnya mengabdi di STIKES Pemkab Jombang.
Namun bukan berarti tanpa tantangan.
Ada agenda-agenda tertentu, terutama proses bimbingan dan ujian, yang mengharuskannya terbang langsung ke Malaysia, setidaknya sekali dalam satu semester, bahkan bisa dua hingga tiga kali dalam kondisi tertentu.
”Memang butuh penataan waktu yang sangat strict antara tugas di kantor dengan harus mengerjakan tugas sebagai mahasiswa,” ungkapnya.
Kini, perjalanan doktoralnya telah memasuki babak baru, yakni tahap penelitian.
Pepin tengah melakukan penelitian di RSUD Soedono Madiun, sembari mengurus proses perizinan penelitian di salah satu rumah sakit di Gresik.
Di luar dunia akademik formal, rekam jejak Pepin terbilang panjang dan beragam.
Ia pernah menjadi delegasi oral presenter di Chiba University, Jepang; mengikuti guest lecture di Mahsa University; serta melakukan benchmarking dan visiting lecture di MSU Malaysia.
Ia juga aktif terlibat dalam berbagai penelitian dan program pengabdian masyarakat beberapa di antaranya didukung Bappeda (kini Bapperida) Jombang sebanyak dua kali, dana hibah Kemenristekdikti PDP (penelitian dosen pemula) dua kali, penelitian riset dosen dari LPDP satu kali, dan hibah penelitian AINEC satu kali.
Kiprahnya di organisasi profesi pun tak kalah aktif.
Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan HPHI Wilayah Jawa Timur, serta menjabat di Subbidang Uji Kompetensi AIPNI Regional IX Jawa Timur.
Satu hal yang menjadi ciri khas Pepin adalah kepakarannya di bidang keperawatan komplementer, yakni perpaduan antara ilmu keperawatan modern dengan pengobatan tradisional.
Kepakaran inilah yang kemudian mengantarnya terlibat dalam penyusunan standar kompetensi pelatihan akupresur tingkat nasional.
Pada 2023, ia mendapat kepercayaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui bidang pendidikan vokasi, untuk menjadi perwakilan akademisi dalam penyusunan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Pelatihan Akupresur Level 3.
Standar tersebut kini menjadi acuan pelaksanaan pelatihan akupresur di berbagai daerah di Indonesia.
Selain sebagai penyusun, Pepin juga berperan sebagai penulis sekaligus reviewer buku terkait standar kompetensi itu, dan tercatat sebagai penyusun Buku SKL Akupresur Level 3 pada 2023.
Baca Juga: Selamat! 3 Prodi STIKES Pemkab Jombang Raih Akreditasi Unggul, D3 Keperawatan Berlaku 5 Tahun
”Di keperawatan itu kepakaran saya sebenarnya adalah keperawatan komplementer.
Keperawatan komplementer itu mengombinasikan ilmu perawat dengan ilmu pengobatan tradisional," jelas peraih penghargaan dosen berprestasi dari AIPNI Regional IX Jawa Timur tahun 2016 ini.
Kepakaran itu tak berhenti di atas kertas.
Ia terus dikembangkan lewat penelitian.
Saat ini, fokus penelitian Pepin tertuju pada pengembangan model integrasi keperawatan komplementer untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi, sebuah upaya untuk memastikan ilmu keperawatan tak hanya berorientasi pada pelayanan konvensional, tetapi juga mampu mengintegrasikan pendekatan komplementer secara tepat demi mendukung kualitas hidup pasien.
Di sela padatnya jadwal akademik dan penelitian, Pepin juga tetap merawat perannya di organisasi profesi.
Saat ini ia aktif dalam kepengurusan P3AI Jombang, setelah sebelumnya pada 2019 sempat dipercaya menjadi ketua organisasi tersebut.
”Sekarang saya aktif di kepengurusan P3AI Jombang.
Dulu tahun 2019 saya sempat jadi ketua, tapi sekarang sudah tidak,” ungkapnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto