Dosen Keperawatan Ini Punya Cara Tak Biasa Jaga Kebugaran di Tengah Padatnya Aktivitas Kampus

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 07:55 WIB
Pepin Nahariani, S.Kep., Ns., M.Kep
Pepin Nahariani, S.Kep., Ns., M.Kep

 

JOMBANG - Di tengah padatnya aktivitas kampus dan tuntutan pendidikan doktoral, Pepin punya cara tersendiri untuk menjaga keseimbangan hidup.

Olahraga menjadi pilihannya.

Bukan hanya satu jenis, ia menyukai beragam aktivitas fisik mulai dari berenang, gym, jalan kaki, hingga mendaki gunung.

Dalam setahun terakhir, sedikitnya tiga kali ia menyempatkan diri mendaki.

Dua kali di antaranya di Gunung Lorokan, satu kali di Watu Jengger.

”Kalau mendaki, disesuaikan dengan waktu ya, karena aktivitas di kampus kan juga padat,” jelasnya.

Namun untuk kegiatan sehari-hari, jalan kaki menjadi pilihan olahraga paling praktis.

Di waktu-waktu longgar, sesekali ia juga menggowes sepeda ontel dari rumah menuju kampus, cara sederhana untuk tetap bergerak di tengah kesibukan.

Bagi Pepin, olahraga bukan sekadar rutinitas fisik.

Baca Juga: Dr Anis Satus Syarifah Dorong Perempuan Mandiri, Pendidikan Anak Tak Harus Sesuai Keinginan Orang Tua

Ia merasakan sendiri manfaatnya. Di antaranya tubuh lebih bugar, stres pekerjaan pun mereda.

”Olahraga itu efektif. Secara teori hormon endorfin keluar, itu ternyata benar. Selain itu bikin fit, tidak mudah sakit, dan produktif dalam bekerja,” tuturnya.

Prinsip menjaga keseimbangan itu rupanya tak hanya diterapkan pada dirinya sendiri, tapi juga dalam mendidik anak.

Sebagai ibu dari seorang anak, Pepin punya cara pandang tersendiri soal pendidikan bagi putrinya.

Putri semata wayangnya kini duduk di bangku SMA.

Menariknya, alih-alih mendorong sang anak mengikuti jejaknya di dunia keperawatan, Pepin justru memilih memberi kebebasan penuh kepada putrinya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Baginya, setiap anak lahir dengan potensi yang berbeda-beda.

Sejak kecil, putrinya menunjukkan ketertarikan dan prestasi di bidang agama.

Melihat itu, Pepin memilih memberi ruang agar potensi tersebut leluasa berkembang, bukan memaksakan kehendaknya sendiri.

Kini, sang putri menempuh pendidikan di MAN 2 Kota Malang, mengambil jurusan Keagamaan, dan tinggal di asrama.

Sebelumnya, ia sempat pula menimba ilmu di pondok pesantren di Solo.

”Saya bebaskan dia memiliki tujuan sendiri dan sesuai dengan potensinya,” tegas Pepin.

Sebagai seorang ibu, istri, sekaligus dosen, Pepin memandang perempuan memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi mendatang.

Baginya, pendidikan tinggi bukan sekadar gelar, melainkan bekal penting bagi perempuan dalam menjalankan peran krusial itu.

”Perempuan itu harus memiliki pendidikan yang tinggi. Karena perempuan adalah figur yang mencetak karakter seorang anak,” katanya.

Pendidikan, lanjutnya, tak hanya berhenti pada pengetahuan akademik semata.

Lebih dari itu, pendidikan membentuk kematangan seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. (wen/naz)

Editor : Anggi Fridianto
Pepin dosen keperawatan olahraga dosen kuliah doktoral tips hidup sehat Pendidikan anak