Perjalanan Dyah Ambarwati, Sempat Ingin Kerja di Bank Indonesia hingga Jadi Kajari Jombang

Achmad RW • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 08:26 WIB
Kepala Kejaksaan Negeri Jombang Dyah Ambarwati SH, MH
Kepala Kejaksaan Negeri Jombang Dyah Ambarwati SH, MH

 

JOMBANG — Tak pernah terlintas dalam benak Dyah Ambarwati SH MH bahwa dirinya kelak menjadi seorang jaksa, apalagi dipercaya memimpin Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang.

Lahir di Semarang pada 20 Februari 1970, Dyah merupakan anak keenam sekaligus bungsu dari enam bersaudara.

Kedua orang tuanya bukan berasal dari lingkungan kejaksaan maupun birokrasi.

 Sang ayah berasal dari Karanganyar, Surakarta, sedangkan ibunya dari Wonogiri.

Keluarganya pun bukan keluarga berada. Kedua orang tuanya menjalani kehidupan sebagai pekerja swasta.

 Namun, dari keluarga sederhana itulah perjalanan panjang Dyah di dunia hukum dimulai.

Sejak SD hingga menempuh pendidikan S1, seluruh hidupnya dijalani di Semarang.

Setelah menyelesaikan SMA Negeri 1, Dyah melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip).

Awalnya, menjadi jaksa bukanlah cita-cita yang sudah ia rancang sejak lama.

Bahkan, selepas kuliah, ia sempat membayangkan bekerja di Bank Indonesia yang kala itu kantornya berada tidak jauh dari kampusnya. Pilihan hidupnya berubah setelah seorang sahabat mengajaknya mengikuti seleksi Kejaksaan.

 ”Teman saya bilang, enak masuk kejaksaan. Saya bilang, mampu masuk kejaksaan? Dia bilang mampu,” kenang Dyah.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Kajari Jombang Dyah Ambarwati, dari Masa Kecil Sulit hingga Memimpin Kejaksaan

Sang sahabat bahkan tidak sekadar mengajak. Ia membimbing Dyah mempersiapkan seluruh tahapan seleksi.

Setiap hari, Dyah dibantu menyiapkan berkas hingga menghadapi berbagai tahapan tes. 

Hingga akhirnya, keberuntungan berpihak kepadanya. Dyah diterima sebagai pegawai Kejaksaan pada 1996. Penempatan pertamanya berada di Kejaksaan Agung sebagai staf tata usaha bidang pembinaan.

Selama sekitar dua hingga tiga tahun, ia menjalani pekerjaan administrasi.

Setelah itu, perjalanan kariernya mulai berubah ketika ia mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPJ) di Ragunan pada Agustus 1999. Enam bulan kemudian, tepat Februari 2000, Dyah dilantik menjadi jaksa.

Penempatan pertamanya sebagai jaksa berada di Kejaksaan Negeri Tangerang.

Hampir empat tahun ia menjalankan tugas di sana sebelum kemudian berpindah-pindah ke sejumlah daerah. Lebak, Surabaya, Jakarta Barat, hingga sejumlah wilayah lain menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Bagi Dyah, berpindah tempat tugas bukan sekadar perpindahan kantor. Setiap daerah memberikan pengalaman dan pelajaran berbeda.

Salah satu yang paling ia ingat adalah ketika bertugas di Lebak. Sebelumnya, ia terbiasa berada di kawasan perkotaan dan sekitar DKI Jakarta. 

Karena itu, ketika mendapat penempatan di Lebak, sempat muncul kekhawatiran. Namun, kekhawatiran itu justru berubah menjadi pengalaman berharga. “Di sana saya bertemu pimpinan yang sangat luar biasa, support ke kita terus. Teman-temannya juga support,” tuturnya.

Bahkan, pengalaman sederhana selama perjalanan dari Rangkasbitung menuju Tangerang masih melekat dalam ingatannya.

Kala itu, kereta api belum seperti sekarang yang sudah dilengkapi pendingin udara. Dengan mengenakan pakaian dinas, ia harus berbaur bersama masyarakat yang membawa berbagai barang dagangan. 

”Zaman dulu kereta apinya tidak seperti sekarang yang AC. Kita berangkat pakai baju dinas, sepatu, jaket, barengan dengan kambing, dengan orang-orang yang habis kulakan,” ujarnya.

Bagi Dyah, pengalaman tersebut justru memperkaya pemahamannya tentang masyarakat. Ia melihat langsung berbagai karakter manusia dan kehidupan sosial dari dekat. Dari perjalanan itulah ia belajar tentang kesabaran sekaligus kepedulian sosial.

”Kalau kita sudah duduk, ada nenek-nenek, itu ujian kepedulian sosial. Di situlah saya diuji betul,” katanya.

Baca Juga: Babak Baru Kasus KPRI Sejahtera Jombang, Kejaksaan Mulai Pulbaket Cermati Dugaan Penyimpangan

Kini, setelah lebih dari seperempat abad mengabdi di Kejaksaan, perjalanan panjang tersebut membawanya ke Jombang.

Ketika pertama kali mendengar akan ditugaskan di Kota Santri, Dyah memiliki gambaran Jombang sebagai daerah yang tenang, kental dengan suasana pesantren, serta identik dengan sejumlah tokoh dan pesantren besar seperti Tebuireng.

Menurut Dyah, Jombang memang memiliki suasana yang tenang dan masyarakat yang ramah.

Namun, setelah menjalankan tugas, ia menemukan kompleksitas persoalan hukum yang jauh lebih beragam dari bayangannya.

”Ketika saya masuk kota Jombang, kesan pertama cukup tenang. Hampir sama seperti Kota Jogja. Aura kesantriannya juga lekat,” ujarnya.

Bagi Dyah, jabatan itu bukan semata hasil dari sebuah perjalanan karier.

Di belakangnya ada puluhan tahun penugasan, perpindahan kota, pengalaman menghadapi berbagai karakter masyarakat, serta proses panjang untuk terus belajar menjadi seorang jaksa. “Semuanya bagi saya berkesan. Kesusahannya kita ingat, kesenangannya juga ingat,” kata Dyah. (riz/naz)

Editor : Anggi Fridianto
Dyah Ambarwati jaksa Jombang kajari perempuan jombang perjalanan karier Kejari Jombang