RadarJombang.id – Pendidikan bagi Dr Anis Satus Syarifah SKep Ns MKes bukan sekadar jalan untuk meraih gelar akademik. Lebih dari itu, pendidikan menjadi bekal untuk membangun kemandirian, menumbuhkan kepercayaan diri, sekaligus mempersiapkan seseorang menghadapi berbagai kemungkinan dalam kehidupan.
Pandangan tersebut tumbuh dari perjalanan panjangnya menempuh pendidikan hingga jenjang doktor. Karena itu, ia menilai proses belajar seharusnya tidak berhenti setelah seseorang memperoleh ijazah atau gelar.
Bagi perempuan, Anis menilai pendidikan juga memiliki peran penting dalam membangun kemandirian. Menurutnya, perempuan perlu memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Baca Juga: Dekan FEB Itebis Jombang Ini Gemar Naik Gunung dan Camping Bersama Tiga Putrinya, Ini Tujuannya
“Wanita itu tetap harus mandiri. Kita tidak tahu perjalanan hidup ke depan,” ungkapnya.
Kemandirian tersebut, lanjut dia, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh penghasilan. Ada pula rasa percaya diri dan keyakinan bahwa seorang perempuan mampu menghadapi berbagai kondisi kehidupan.
“Kalau kita punya penghasilan sendiri, terjadi sesuatu pada pasangan, kita masih punya kekuatan. Secara finansial tingkat ketergantungannya tidak terlalu berat,” jelasnya.
Baca Juga: Guru SMAN Kabuh Jombang Ini Pilih Tebuireng untuk Putranya, Alasannya Bikin Kagum
Nilai tentang pendidikan dan kemandirian itu juga diterapkan Anis dalam mendampingi kedua anaknya. Ia bersama suaminya dikaruniai dua anak dengan perjalanan pendidikan masing-masing.
Anak pertama telah menyelesaikan pendidikan S2 di bidang anak berkebutuhan khusus dan kini melanjutkan pendidikan profesi psikologi. Sementara anak kedua menyelesaikan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) bidang bioteknologi dan melanjutkan pendidikan S3 di Jepang melalui beasiswa dari pemerintah Jepang.
Meski memiliki harapan terhadap masa depan anak, Anis memilih tidak menentukan seluruh arah kehidupan mereka. Orang tua, menurutnya, tetap memiliki tugas memberikan bekal dan arahan, tetapi anak perlu diberi ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.
“Orang tua tetap mengarahkan. Paling tidak mereka harus tahu ke depannya bagaimana. Tapi hanya sebagai teman sharing,” katanya.
Menurut Anis, setiap generasi akan menghadapi zaman dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pengalaman orang tua tidak bisa sepenuhnya dipaksakan kepada anak. “Mereka akan hidup di dunianya sendiri. Dia akan hidup di masanya, bukan di masa kita,” tegasnya.
Selain pendidikan akademik, Anis menempatkan pendidikan agama sebagai fondasi penting dalam kehidupan anak. Kedua anaknya pernah mendapatkan pendidikan agama sekaligus pengalaman mondok.
“Keduanya pernah mondok, yang satu di Darul Ulum, yang satu di Amanatul Ummah Pacet, agar mereka memiliki bekal agama yang cukup,” jelasnya.
Baca Juga: Dari Hobi Memasak, Guru SMAN Bareng Jombang Ini Cetak Siswa Jadi Calon Pengusaha Kuliner
Menurut dia, pendidikan karakter tidak hanya diberikan melalui nasihat. Nilai tersebut juga dibangun dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menghormati orang tua dan anggota keluarga, menjaga hubungan kakak-adik, hingga memahami pentingnya berbakti kepada orang tua.
Salat dan puasa juga menjadi bagian yang terus dijaga. Bagi Anis, kemampuan akademik perlu berjalan bersama karakter dan pegangan moral serta spiritual.
Prinsip tersebut tetap ia jaga meski anak-anaknya kini menempuh pendidikan di tempat yang berbeda. Ketika salah satu anaknya berada jauh di Jepang, komunikasi keluarga tetap dilakukan secara rutin melalui WhatsApp maupun video call, terutama pada akhir pekan.
Baca Juga: Inspiratif! Guru SMAN Bareng Jombang Ini Buktikan Olahraga Jadi Kunci Sukses Jalani Banyak Peran
“Komunikasi aktif meski jarak jauh, tetap mengingatkan untuk ibadah di tengah kesibukan belajar,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, Anis juga berusaha menyediakan waktu untuk keluarga. Akhir pekan menjadi kesempatan untuk menikmati waktu bersama suami dan dua cucunya.
Aktivitas akademik terkadang masih berlanjut hingga malam hari, bahkan pada hari libur. Kondisi tersebut membuat waktu bersama keluarga menjadi semakin berharga baginya.
“Kadang sampai malam ada saja yang dikerjakan, jadi waktu luang menjadi sangat berharga dengan keluarga,” katanya.
Bagi Anis, pendidikan, karier, dan keluarga bukanlah bagian yang berdiri sendiri. Pendidikan menjadi bekal untuk berkembang, pengalaman menjadi modal untuk membimbing generasi berikutnya, sedangkan keluarga menjadi ruang untuk menanamkan nilai kehidupan.
Pada akhirnya, ia memandang keberhasilan bukan hanya dari pencapaian akademik atau posisi yang diraih. Ilmu dan pengalaman akan memiliki makna ketika dapat digunakan untuk menguatkan diri, membimbing generasi berikutnya, dan memberikan manfaat bagi sesama. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW