JOMBANG – Bagi Lela Fiyanti, S.Pd, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Perempuan kelahiran Jombang, 29 Juli 1983, itu meyakini pendidik harus terus belajar dan berkembang agar mampu menjadi teladan bagi peserta didiknya.
Prinsip tersebut ia pegang selama hampir dua dekade mengabdi di dunia pendidikan. Hingga kini, guru Biologi SMAN Kabuh itu masih aktif belajar dan berkarya. Salah satunya dengan mengikuti Lomba Cipta Puisi Gempita Awards 2025 tingkat kabupaten dan berhasil masuk 10 besar.
Selain mengajar, Lela juga dipercaya menjadi wali kelas dan bendahara Bantuan Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP). Di tengah berbagai tanggung jawab itu, ia tetap berupaya mengembangkan diri. ”Guru tidak boleh berhenti belajar. Kalau kita ingin anak-anak semangat berkarya, maka gurunya juga harus memberikan contoh,” tuturnya.
Lela lahir dan besar di Jombang. Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Kepanjen 2 Jombang, kemudian berlanjut ke SMP Negeri 2 Jombang hingga SMA Negeri 1 Jombang. Ketertarikannya pada ilmu pengetahuan, khususnya Biologi, mulai tumbuh saat duduk di bangku SMA. Minat tersebut mengantarkannya memilih Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Perjalanan Lela menjadi pendidik dimulai setelah menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2006. Setahun kemudian, ia mengawali karier mengajar di SMK PGRI 2 Jombang.
Pengalaman pertama tersebut menjadi proses penting baginya untuk memahami dunia pendidikan. ”Saya masih belajar menjadi guru. Belajar bagaimana menyampaikan materi, memahami karakter siswa, sampai belajar bagaimana menjadi pendengar yang baik,” kenangnya.
Pada 2009, Lela diterima sebagai guru di SMKN 1 Jombang. Selama lebih dari 13 tahun mengabdi di sana, ia banyak belajar menghadapi karakter siswa yang beragam. Menurutnya, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga harus memahami kondisi dan kebutuhan siswa. ”Di sekolah, kita sama-sama belajar. Siswa belajar, guru juga belajar,” ujarnya.
Baginya, tidak ada anak yang benar-benar nakal. Setiap siswa memiliki karakter dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Karena itu, ia sering melakukan pendekatan personal agar siswa merasa diperhatikan.
Dalam pembelajaran Biologi, Lela berusaha membuat suasana kelas lebih menarik melalui metode praktik dan pemanfaatan media pembelajaran interaktif, termasuk virtual laboratory. Menurutnya, pembelajaran berbasis pengalaman membuat siswa lebih mudah memahami materi.
Pada 2022, Lela diangkat menjadi PPPK dan ditempatkan di SMKN Wonosalam. Karena kebutuhan jam pelajaran Biologi terbatas, ia juga sempat mengajar di SMAN 1 Jombang melalui kerja sama antarsekolah. Setahun kemudian, ia mendapat penempatan baru di SMAN Kabuh.
Perpindahan itu menjadi tantangan tersendiri. Jika sebelumnya jarak rumah ke sekolah hanya sekitar lima menit, kini ia harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit setiap hari. Namun, dukungan lingkungan kerja membuatnya mampu beradaptasi. ”Teman-teman guru di sini sangat mengayomi. Saya merasa diterima sebagai keluarga. Jadi meskipun jauh, saya nyaman,” katanya.
Bagi Lela, mengikuti kompetisi bukan hanya soal penghargaan. Ajang tersebut menjadi ruang belajar sekaligus pembuktian bahwa guru harus terus meningkatkan kualitas diri. Ia berharap pencapaiannya dapat memotivasi guru lain untuk terus berkarya. ”Belajar itu proses seumur hidup. Selama masih diberi kesempatan mengajar, saya ingin terus berkembang,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto