JOMBANG - DI BALIK kesibukannya sebagai guru matematika sekaligus Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas MAN 10 Jombang, Istiqomah MPd tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, ketiga peran tersebut harus berjalan beriringan.
Di luar aktivitas mengajar, ia aktif sebagai pengurus Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan RT serta aktif mengikuti kegiatan PKK di tingkat RT/RW.
Meski memiliki beragam aktivitas, perempuan yang tinggal di Desa Banjarsari, Kecamatan Bandarkedungmulyo itu mengaku tidak merasa kewalahan. Menurutnya, semua dapat dijalani jika mampu mengatur waktu dan menentukan skala prioritas.
”Kuncinya disiplin. Saat di sekolah saya fokus mengajar dan menyelesaikan seluruh pekerjaan. Setelah pulang, waktunya saya dedikasikan untuk keluarga. Administrasi guru saya usahakan selesai di sekolah sehingga tidak membawa pekerjaan ke rumah,” ujarnya.
Bagi ibu dua anak itu, keluarga tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, pendidikan karakter kepada anak tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi juga diwujudkan dalam keteladanan sehari-hari
. Ia dan suaminya membiasakan salat tepat waktu, bertutur kata santun, serta menumbuhkan budaya membaca di rumah. Menurutnya, anak akan lebih mudah belajar dari apa yang dilihat dibanding sekadar mendengar perintah. ”Saya percaya anak lebih mudah meniru daripada hanya diperintah,” katanya.
Prinsip yang sama juga diterapkannya saat mendidik siswa di sekolah. Ada tiga nilai yang selalu ia tanamkan, yakni kejujuran, adab, dan kemandirian. Ketiganya diyakini menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan kehidupan.
”Kejujuran adalah pondasi. Anak yang cerdas tetapi tidak jujur akan kesulitan mendapat kepercayaan. Adab juga harus lebih tinggi daripada ilmu. Setelah itu, anak perlu belajar mandiri dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Menurut Istiqomah, pendidikan agama dan pembentukan karakter tetap menjadi bekal paling penting bagi generasi muda, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Dengan fondasi akhlak yang kuat, anak akan memiliki pegangan dalam menentukan setiap langkah kehidupannya. ”Kalau fondasi agama dan akhlaknya kuat, anak akan memiliki kompas dalam hidupnya, di mana pun berada dan kapan pun zamannya,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto