JOMBANG – Bagi banyak siswa, pelajaran seni budaya sering dianggap sekadar pelengkap. Namun di tangan Krisna Trinurtitasari, SPd, guru Seni Budaya SMAN Ngoro, seni justru menjadi media untuk membangun kepercayaan diri, kreativitas, dan karakter peserta didik.
Perempuan yang lahir dan besar di Pare, Kabupaten Kediri ini menempuh pendidikan dasar di SDN Bendo 3 Pare yang sekarang menjadi SDN Bendo 2 Pare, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Pare dan SMA Negeri 1 Gurah Kediri. Ketertarikannya pada dunia seni membawanya kuliah di Universitas Negeri Malang pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa Prodi desain grafis.
Lulus pada 2011, wanita yang lahir 7 Juni 1989 tersebut sempat bekerja di bidang percetakan dan advertising di Pare. Di waktu yang sama, ia juga mengajar di SMP Sriwedari dan SDN Arjosari 3 Malang. Kesempatan menjadi guru di SMAN Ngoro datang pada November 2011 melalui rekomendasi seorang guru yang mengenalnya saat bekerja di percetakan Prima Advertising.
Baca Juga: Sosok Inspiratif! Guru SMAN Ngoro Jombang Ini Ubah Pohon Jambu Jadi Motif Batik Khas Sekolah
”Awalnya hanya mengajar beberapa jam. Setelah mendapatkan SK GTT saya bertugas full di SMAN Ngoro dan melepas semua yang di Malang termasuk yang di percetakan,” ujarnya.
Sejak 2012, Krisna fokus mengajar di SMAN Ngoro. Setelah lebih dari satu dekade mengabdi, ia resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada 2022.
Di kelas, Krisna tidak hanya mengajarkan teknik menggambar atau melukis. Ia berusaha membangun rasa nyaman agar siswa berani mengekspresikan diri.
Menurutnya, tantangan terbesar mengajar seni saat ini bukan soal kemampuan menggambar siswa, melainkan rendahnya rasa percaya diri. Banyak siswa yang merasa tidak berbakat sehingga enggan mencoba.
”Saya selalu mengatakan bahwa tidak ada gambar yang jelek. Setiap goresan itu unik. Seni bukan hanya soal hasil, tetapi juga proses,” katanya.
Pendekatan itu pernah ia terapkan kepada seorang siswa yang sangat pendiam dan sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Melalui kegiatan seni, mengajak berkeliling sekolah, hingga memberi kesempatan mengikuti lomba kriya, Krisna perlahan membantu siswa tersebut keluar dari zona nyamannya.
Baginya, seni memiliki kekuatan sebagai media terapi yang mampu membantu siswa mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Selain mengajar, Krisna juga pernah dipercaya menjadi Pengajar Praktik Program Guru Penggerak pada angkatan 5 dan angkatan 9. Selama enam bulan, ia mendampingi guru-guru peserta Program Guru Penggerak melalui observasi pembelajaran dan pemberian umpan balik.
Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya, jika guru harus terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Saat ini ia juga tengah mengikuti program Wardah Inspiring Teacher Generasi 8 yang diselenggarakan oleh Paragon Corporation bersama Guru Belajar Foundation. Dari puluhan ribu peserta, Bu Chis, sapaan akrabnya berhasil lolos di tahap 1 dengan 25.000 peserta lanjut sekarang ditahap 2 dengan 10.000 peserta. ”Mohon doa untuk tahap selanjutnya ya mbak,” imbuhnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini adalah distraksi digital yang membuat perhatian siswa semakin pendek. Karena itu, ia mencoba menggabungkan pendekatan seni konvensional dengan teknologi digital.
Dalam pembelajaran, siswa tidak hanya membuat karya gambar dan lukis, tetapi juga video sinematografi, poster digital, desain jersey ekstrakurikuler, booklet, hingga media pembelajaran interaktif.
”Kita tidak bisa menolak perubahan. Yang bisa dilakukan guru adalah mengarahkan teknologi agar menjadi sarana belajar yang positif,” ujarnya.
Karya-karya siswa tersebut kemudian dipajang di lingkungan sekolah sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi peserta didik lainnya.
Dukungan sekolah termasuk peran Kepala Sekolah dan jajaran wakil kepala menjadi faktor penting dalam pengembangan kreativitas siswa. Selama bertugas di SMAN Ngoro, Krisna merasakan dukungan penuh dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Berbagai fasilitas seni mulai dari kamera, drone, hingga sanggar kreasi disediakan untuk menunjang pengembangan bakat siswa.
”Guru yang bisa berkembang pasti karena didukung banyak orang hebat di belakangnya. Saya sangat bersyukur berada di lingkungan yang mendukung kreativitas,” tuturnya. (wen)
Editor : Anggi Fridianto