Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kisah Inspiratif Guru Asal Jombang, Anak Kuli Bangunan yang Kini Jadi Trainer Nasional

Wenny Rosalina • Rabu, 17 Juni 2026 | 07:44 WIB
Tatik Indarwati, M.M.Pd
Tatik Indarwati, M.M.Pd

 

JOMBANG – Tidak banyak yang menyangka, perempuan yang kini dikenal sebagai penulis, trainer nasional, pengurus organisasi profesi guru, sekaligus Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas MAN 6 Jombang ini berasal dari keluarga sederhana. Di balik berbagai prestasi yang diraih, Tatik Indarwati, MMPd menyimpan kisah perjuangan panjang yang dimulai dari sebuah desa kecil di Kecamatan Mojoagung.

Perempuan kelahiran Jombang, 14 Juni 1980 itu tumbuh besar di Desa Murukan, Kecamatan Mojoagung. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan. Keluarganya hidup dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Namun sejak kecil, Tatik sudah menunjukkan semangat belajar yang tinggi.

Ia mengawali pendidikan di SDN Murukan dan berhasil lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Prestasi itu mengantarkannya diterima di SMPN 1 Mojoagung, kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN Mojoagung.

Meski memiliki latar belakang pendidikan umum, perjalanan hidup Tatik justru berubah ketika ia menempuh kuliah di Fakultas Dakwah jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, yang saat itu masih bernama IAIN Sunan Ampel.

Di masa kuliah itulah ia pertama kali mengenal kehidupan pesantren. Berbeda dengan teman-temannya yang sejak kecil belajar di madrasah dan pondok pesantren, Tatik harus memulai semuanya dari nol. Waktu itu saya diajak teman untuk mondok. Awalnya hanya ikut-ikut saja. Tapi setelah masuk pondok, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Saya merasa menemukan lingkungan yang membuat saya berkembang,” kenangnya.

Tatik kemudian tinggal di Pondok Pesantren An-Nuriyah Wonocolo Surabaya (Pondok Putri Mahasiswa) sambil kuliah. Sebagai mahasiswa yang berasal dari sekolah umum, ia mengaku harus bekerja jauh lebih keras dibandingkan teman-temannya.

Baca Juga: Alasan Wakil Kepala MAN 6 Jombang Pilih Pesantren untuk Anaknya, Berawal dari Sebuah Penyesalan

Saat teman-teman lain sudah terbiasa membaca kitab dan memahami pelajaran agama, dirinya harus belajar dari dasar. Ia sering meminjam buku milik teman-temannya yang berlatar belakang madrasah untuk dipelajari sendiri pada malam hari. ”Kalau teman-teman lain sudah paham, saya harus mengejar. Saya pinjam buku, belajar sendiri, bertanya kalau tidak mengerti. Saya tidak malu bertanya,” ujarnya.

Keuletannya membuahkan hasil. Baru satu tahun tinggal di pesantren, Tatik dipercaya menjadi pengurus pondok. Menjelang akhir masa kuliah tepat di tahun keempat, Tatik dipercaya menjadi ketua pengurus pondok putri.

Lulus pada tahun 2003, Tatik memilih mengabdikan diri sebagai guru honorer di madrasah. Saat itu gaji yang diterimanya hanya sekitar Rp 75 ribu per bulan. ”Itupun yang Rp 5 ribu saya sedekahkan untuk anak-anak kecil, agar rezeki saya makin barokah,” kenangnya.

Nominal yang sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup saat itu. Namun ia memilih bertahan karena memegang pesan orang tua agar ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. ”Orang tua saya berpesan, setelah kuliah mengabdilah di desa. Jangan melihat besar kecilnya gaji, tapi lihat manfaatnya,” tuturnya.

Selama lima tahun mengajar sebagai honorer, Tatik menjalani semuanya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya diangkat menjadi guru tetap. Sejak saat itu kariernya terus berkembang. Awalnya ia dipercaya menjadi bendahara komite madrasah. Setelah itu menjabat kepala perpustakaan, wali kelas, wakil kepala madrasah bidang kesiswaan, hingga kini dipercaya sebagai Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas MAN 6 Jombang.

Meski sibuk mengajar dan mengelola berbagai program madrasah, Tatik tidak pernah meninggalkan kegemarannya membaca dan menulis. Kecintaan terhadap literasi membuatnya aktif mengikuti berbagai komunitas menulis guru tingkat nasional. Dari aktivitas tersebut lahirlah sejumlah karya yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku.

Hingga saat ini, Tatik telah menghasilkan sedikitnya delapan karya, yakni Elegi Cinta Lara (2019), Pendidikan Masa Kini dan Masa Depan (2020), Perjuangan dan Harapan (2020), Pendidikan Literasi di Madrasah (2020), dua buku digital interaktif mata pelajaran Sosiologi, serta audiobook Inilah Caraku Mencintaimu (2022).

Produktivitasnya dalam dunia literasi mengantarkan Tatik menjadi trainer nasional. Ia dipercaya melatih guru-guru dari berbagai daerah dalam pembuatan buku digital interaktif, audiobook, poster digital, hingga media pembelajaran berbasis ClassPoint.

Selain itu, ia aktif sebagai Pengurus Daerah Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Jombang, Pengurus MGMP Sosiologi MA Jawa Timur, Pendamping Proses Produk Halal (P3H), dan pernah dipercaya menjadi tim penguji CPNS pada 2024.

Di tengah berbagai kesibukan tersebut, Tatik masih menyimpan mimpi untuk terus berkarya. Ia berharap dapat kembali menulis buku setelah beberapa tahun terakhir fokus membangun citra dan publikasi MAN 6 Jombang melalui website serta media sosial madrasah. Menulis itu bukan sekadar hobi. Menulis adalah cara saya berbagi pengalaman, ilmu dan inspirasi kepada orang lain,” jelasnya. (wen/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#Guru Inspiratif Jombang #Tatik Indarwati #Literasi Guru Jombang #Prestasi Guru Jombang #Man 6 Jombang