JOMBANG - Siapa sangka, sebelum dikenal sebagai guru Biologi dan penggerak lingkungan di SMAN 3 Jombang, Dra Wenny Wardhani, Gr pernah menekuni dunia senam dan tari. Aktivitas itu cukup serius dijalaninya. Namun, seiring padatnya pekerjaan dan tuntutan keluarga, ia akhirnya memilih berhenti.
”Waktu mengajar semakin padat. Anak-anak juga mulai protes karena waktu saya banyak tersita. Akhirnya saya memilih meninggalkan kegiatan senam dan fokus pada keluarga serta pendidikan,” ujarnya.
Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam hidupnya. Bersama sang suami, Mahmud Jauhari Effendi, Wenny membangun kehidupan keluarga di Perumahan Mahameru, Candimulyo.
Di tengah kesibukan sebagai guru, ia tetap aktif di bidang lingkungan. Wenny tercatat sebagai anggota Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) dan kerap terlibat dalam berbagai program lingkungan di Kabupaten Jombang.
Menariknya, meski dikenal sebagai penggerak penghijauan sekolah, Wenny mengaku bukan tipe yang hobi bercocok tanam. ”Kalau urusan menanam, itu suami saya. Tangan saya panas,” candanya.
Ia justru lebih menikmati aktivitas pengolahan lingkungan, seperti membuat kompos dan mengelola program daur ulang sampah.
Baginya, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya teori di kelas. Siswa harus terlibat langsung dalam praktik. Karena itu, hampir seluruh program yang dijalankannya berbasis lapangan. Mulai dari pengolahan sampah, pembuatan kompos, pertanian organik, hingga menghasilkan karya dari barang bekas.
Menurut Wenny, keberhasilan pendidikan bukan sekadar nilai akademik. Lebih dari itu, bagaimana siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. ”Yang penting anak-anak mengalami sendiri prosesnya. Dari situ mereka belajar bertanggung jawab, peduli lingkungan dan bisa menghasilkan karya,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto