Indah merupakan salah satu pegiat literasi di SMPN Ploso. Ia menjadi pencetus Gerakan Literasi yang memberi ruang bagi siswa untuk menampilkan bakat dan kemampuan mereka melalui kegiatan ”Jumat Literasi” yang rutin digelar setiap Jumat Wage.
”Pada kegiatan itu, berbagai karya sastra berupa kumpulan cerpen dan puisi juga berhasil diterbitkan bersama siswa sebagai bagian dari pengembangan budaya literasi di sekolah,” ungkapnya.
Di luar sekolah Indah juga aktif mengembangkan berbagai program literasi. Ia mendirikan lembaga bimbingan belajar di Ploso serta menjadi pembina lomba menulis cerpen bagi pelajar. Di lingkungan sekolah, ia menggagas berbagai inovasi literasi seperti Sanggar Baca, Pojok Inspirasi, Taman Baca, dan Panggung Ekspresi. Ia juga dipercaya menjadi Kepala Perpustakaan sekolah.
Dedikasi dan konsistensinya dalam dunia literasi membuahkan berbagai prestasi. Salah satu capaian membanggakan adalah menjadi bagian dari Penulis MURI Puisi Etnik Tingkat ASEAN tahun 2025.
Wanita kelahiran Tuban, 13 Juli 1981 tersebut lahir dan tumbuh dalam keluarga Jawa. Meski berasal dari Kota Ronggolawe, kini ia berdomisili di Nganjuk dan menjalankan tugas sebagai guru di SMP Negeri 1 Ploso, Kabupaten Jombang.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Kutorejo 4 pada tahun 1988-1994, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Kertosono (1994-1997), SMAN 1 Patianrowo (1997-2000), hingga menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada tahun 2004.
Ketertarikan Indah terhadap sastra telah tumbuh sejak masa kuliah. Saat menjadi mahasiswa, ia aktif dalam kegiatan teater yang kemudian terus dikembangkan saat berkarier sebagai guru. Sejak tahun 2010, ia membina kegiatan ekstrakurikuler teater di SMP Negeri 1 Ploso sebagai wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas dan mengasah kemampuan seni.
Karier profesionalnya dimulai sebagai tentor di Primagama Lidah Wetan Surabaya pada periode 2000-2004. Setelah itu, pada tahun 2005 ia menjadi guru di SMP Negeri 1 Ploso sekaligus pembina teater. Di waktu yang hampir bersamaan, ia juga mengajar sebagai tentor Primagama Kertosono hingga tahun 2017. Pengabdiannya di dunia pendidikan semakin panjang ketika menjadi guru di SMK Baitul Atiq Nganjuk pada periode 2009-2023 sebelum kembali mengabdikan diri secara penuh di SMP Negeri 1 Ploso hingga sekarang.
Kiprahnya di bidang sastra semakin menonjol pada tahun 2023 ketika ia mulai mendalami puisi etnik yang mengangkat budaya serumpun di 10 negara ASEAN. ”Dari proses itu, lahirlah puisi etnik berjudul Siraman Sedudo, sebuah karya yang mengangkat tradisi budaya masyarakat Nganjuk yang digelar setiap bulan Suro di kawasan Air Terjun Sedudo,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto