Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gagal Jadi Dokter hingga Raih Medali Provinsi, Ini Kisah Inspiratif Ely Novito Sari Guru MTsN 2 Rejoso Jombang

Wenny Rosalina • Rabu, 13 Mei 2026 | 05:35 WIB
Ely Novito Sari, SPd, guru MTsN 2 PPDU Rejoso Peterongan
Ely Novito Sari, SPd, guru MTsN 2 PPDU Rejoso Peterongan

 

JOMBANG - Jalan hidup Ely Novito Sari SPd berubah karena satu pesan sederhana dari sang ibu. Saat peluang masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sudah di depan mata, perempuan asal Kecamatan Mojoagung itu justru memilih mengubur mimpinya demi membahagiakan orang tua.

Kini, Ely mengabdikan diri sebagai guru matematika di MTsN 2 Jombang Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan. Perempuan kelahiran Jombang, 25 November 1991 itu juga menorehkan prestasi sebagai peraih medali perunggu lomba literasi dan numerasi tingkat Provinsi Jawa Timur.

Ely tumbuh di lingkungan sederhana di Kecamatan Mojoagung. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Dukuhmojo 3, lalu melanjutkan ke SMPN 1 Mojoagung dan SMAN Mojoagung yang kala itu berstatus RSBI atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.

”Awalnya saya tidak punya angan-angan masuk RSBI. Tapi waktu tes ternyata peringkatnya bagus dan akhirnya masuk,” kenangnya.

Kemampuan akademiknya terus menonjol hingga ia menjadi lulusan terbaik saat SMA. Prestasi itu mengantarkannya lolos tahap awal seleksi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Namun keinginannya menjadi dokter harus berhenti di tengah jalan. Sang ibu berharap Ely tetap kuliah dekat rumah agar bisa pulang setiap hari. ”Waktu itu ibu ingin saya tetap bisa pulang setiap hari karena saya perempuan. Di Fakultas Kedokteran UB saya lolos test tahap 1, tinggal dua tahap lagi,” ujarnya.

Pilihan akhirnya jatuh pada STKIP PGRI Jombang yang kini menjadi Universitas PGRI Jombang, jurusan Pendidikan Matematika. Saat itu, keputusan tersebut sebenarnya sangat berat baginya. ”Sangat bertentangan. Tinggal sedikit lagi masuk kedokteran. Tapi setelah dijalani ternyata saya mulai menikmati,” katanya.

Kecintaan Ely pada matematika ternyata tumbuh dari kebiasaan belajarnya sejak kecil. Ia mengaku tidak bisa belajar hanya dengan membaca. ”Saya itu kalau belajar harus sambil nulis dan menghitung. Tangan harus ikut bergerak,” katanya.

Baca Juga: Profil Bambang Tedjoatmoko, ASN Dishub Jombang yang Mengabdi dengan Tanggung Jawab dan Humanis

Cara berpikir itulah yang kemudian membuatnya menyukai matematika. Ia terbiasa mencari pola dan hubungan antarmateri, bukan sekadar menghafal rumus. ”Saya selalu mencari hubungan antar-materi, mencari cara cepat dan cara yang bisa dipakai untuk banyak soal sekaligus,” jelasnya.

Perjalanan mencintai matematika juga tidak instan. Saat kecil, ia pernah dihukum orang tuanya karena tidak hafal perkalian. Namun pengalaman itu justru menjadi titik balik. ”Waktu kelas tiga SD saya mulai dapat nilai bagus matematika dan akhirnya suka belajar,” katanya.

Semangat belajar Ely semakin tumbuh saat SMA. Ia memiliki guru yang juga seorang ustad pondok pesantren. Sang guru membiasakan murid-muridnya membaca Alquran selepas Magrib hingga Isya. ”Itu yang menurut saya membuat otak semakin lancip,” ujarnya.

Kebiasaan spiritual itu terus dijaganya hingga sekarang. Ely rutin menjalankan puasa Senin-Kamis sejak SMP. Setelah menikah, ia bersama suami juga membiasakan mengaji di depan anak-anak mereka. ”Setelah Magrib saya dan suami berusaha mengaji di depan anak supaya nanti jadi contoh,” katanya.

Inspirasi memperkuat tirakat demi pendidikan anak juga ia dapat dari Kepala MTsN 2 Jombang, Agustin Aminah. Ely mengaku kagum melihat anak-anak Agustin yang berprestasi dan memiliki pendidikan baik. ”Melihat anak-anak beliau yang berprestasi, saya juga ingin anak-anak diperlancar dalam segala hal,” tuturnya.

Menariknya, Ely mengaku dulu justru tidak menyukai profesi guru. Ia menganggap pekerjaan itu membosankan. Namun pesan terakhir Sang Ibu mengubah cara pandangnya. ”Ibu ingin saya terus belajar ilmu umum sekaligus agama,” ucapnya.

Wasiat itulah yang akhirnya membawanya mengabdi di MTsN 2 Jombang. Ia memulai karier sebagai guru honorer sebelum akhirnya diangkat menjadi PPPK pada 2023. Bagi Ely, menjadi guru bukan hanya soal mengajarkan rumus matematika. Tantangan terbesar justru bagaimana membuat siswa tidak takut pada pelajaran tersebut. ”Matematika itu sering dianggap menakutkan. Tantangannya bagaimana membuat anak-anak enjoy belajar dan mudah memahami materi,” tuturnya.

Baca Juga: Profil Dian Kusuma Rahmat Subekti, Kepala Dinas Perkim Jombang

Dari dunia pendidikan pula, Ely menemukan makna kesuksesan yang sesungguhnya: membahagiakan orang tua. Ia masih mengingat momen ketika Sang Ibu menangis haru saat namanya diumumkan sebagai siswa berprestasi. ”Itu kebanggaan luar biasa. Saya merasa sukses itu tidak harus luar negeri atau apa, cukup bisa membuat orang tua bangga,” katanya.

Semangat itu kini terus ia tularkan kepada para siswanya. Baginya, prestasi adalah bentuk bakti paling sederhana kepada orang tua. ”Orang tua itu tidak minta dibalas harta. Cukup anaknya berprestasi, namanya disebut baik, itu sudah membuat mereka bahagia,” jelasnya. (wen/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Ely Novito #guru ber[restasi #Jombang #ponpes darul ulum #MTsN 2 Jombang