DI TENGAH rutinitas sebagai pendidik, Linda memilih cara sederhana untuk menjaga keseimbangan hidup. Bukan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, ia justru menemukan kebahagiaan dari rumah dan halaman sendiri. Berkebun menjadi hobi utama yang memberinya ketenangan.
Beragam tanaman ia rawat, mulai dari anggrek, belimbing, mangga hingga kelengkeng. Salah satu yang paling berkesan adalah pohon belimbing yang ditanam sejak 2015 dan sempat berbuah lebat. ”Saya lebih suka berkebun daripada liburan jauh. Itu me time saya,” ujarnya.
Selain berkebun, Linda juga menyalurkan hobi memasak. Ia kerap mencoba resep baru dari media sosial, mulai dari ayam panggang hingga sambal goreng ati kentang. Aktivitas dapur menjadi bagian dari rutinitas yang ia nikmati bersama keluarga.
Akhir pekan pun dihabiskan dengan cara sederhana. Mulai dari nge-grill hingga sekadar bersantai di rumah. Baginya, suasana hangat bersama keluarga sudah cukup untuk mengisi ulang energi. ”Saya lebih suka di rumah, pakai daster, masak, dan kumpul. Itu sudah cukup untuk recharge energi untuk beraktifitas kembali di hari Senin,” katanya.
Tak hanya di rumah, Linda juga aktif di lingkungan sekolah. Ia terlibat sebagai admin media sosial sekolah sekaligus pembina jurnalistik, sehingga tetap dekat dengan dunia siswa dan perkembangan tren.
Di balik itu, Linda dikenal sebagai pribadi yang gemar berbagi. Ia menilai makna hidup tidak semata pada pencapaian akademik, melainkan pada manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. ”Saya tidak lagi mengejar gelar. Yang penting saya bisa belajar dari kehidupan, menghargai orang lain, dan berbagi,” tuturnya.
Ia pun berharap dapat terus memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. ”Bagi saya, kebermaknaan hidup bukan tentang menjadi pusat perhatian, melainkan tentang seberapa luas manfaat yang bisa saya berikan. Orientasi saya bukan pada citra untuk dikagumi, tapi pada dampak nyata yang bisa dirasakan oleh lingkungan terdekat,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto