JOMBANG - Perjalanan karier Linda Widyastuti bukanlah kisah instan, melainkan potret perjuangan panjang yang ditempa oleh waktu, kegagalan, dan keteguhan hati. Perempuan asal Desa Gambiran, Kecamatan Mojogung, ini telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama lebih dari 18 tahun.
Lahir dan besar di Mojogung, Linda menempuh pendidikan dasar di SDN Gambiran 01, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Mojogung.
Prestasinya mengantarkannya diterima di SMA Negeri 1 Jombang, sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Universitas Negeri Malang pada 2001. Di perguruan tinggi, ia mengambil langkah berani dengan menempuh gelar ganda, Sarjana Sastra dan Sarjana Pendidikan yang berhasil diselesaikan pada 2007.
”Kalau hanya sarjana sastra saja saya harus menempuh akta 4 untuk bisa menjadi guru, jadi saat semester 6 saya memutuskan untuk S1 pendidikan sekalian jadi bisa selesai 2007,” ungkapnya.
Bekal akademik tersebut mengantarkannya menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) di SMA Negeri Mojoagung sejak 2008. Selama 15 tahun, Linda menjalani peran sebagai guru honorer dengan penuh dedikasi. Ia melewati berbagai fase kepemimpinan sekolah, sembari terus belajar dari para guru senior dan membangun kedekatan dengan siswa.
Baca Juga: Profil Bambang Tedjoatmoko, ASN Dishub Jombang yang Mengabdi dengan Tanggung Jawab dan Humanis
”Bagi saya, menjadi guru bukan sekadar mengajar, tapi mau mendengarkan siswa. Justru saya yang lebih banyak belajar dari mereka,” ungkapnya.
Tak terhitung, berapa kali Linda gagal dalam seleksi CPNS, hingga akhirnya Linda mengikuti seleksi PPPK gelombang ketiga dan dinyatakan lulus tahun 2023 lalu. Itupun dilaluinya dengan cara tak biasa, setelah pada seleksi sebelumnya ia gagal karena ada kesalahan teknis yang membuat namanya tidak ada dalam daftar ujian, pada seleksi terakhirnya ia harus menghadapi kecelakaan menjelang tes. Dalam kondisi patah kaki akibat kecelakaan saat berangkat kerja, ia tetap mengikuti ujian dengan kursi roda. ”Saya dibopong panitia naik ke lantai atas di SMKN 3 Jombang. Itu momen yang tidak akan saya lupakan,” kenangnya.
Perjuangan tersebut berbuah manis. Ia dinyatakan lulus PPPK, bersamaan dengan kelulusannya dalam pendidikan profesi guru (PPG) dan resmi menerima sertifikasi guru. Sebuah pencapaian yang ia sebut sebagai ”hadiah dari Allah” setelah 15 tahun mengabdi.
Di sekolah, Linda selalu berusaha mengenal dan membangun kedekatan emosional kepada semua siswa. Kedekatannya dengan siswa menjadi kunci keberhasilannya dalam membina berbagai kegiatan sekolah. Ia dipercaya menjadi wali kelas XII-6, pembina OSIS (sektor kegiatan siswa), pembina ekstrakurikuler jurnalistik, sekaligus pembina tim suporter Barabrava. Di bawah bimbingannya, Barabrava dikenal sebagai suporter yang menjunjung tinggi loyalitas tanpa mengabaikan nilai sportivitas dan anti-SARA.
Baca Juga: Profil Dian Kusuma Rahmat Subekti, Kepala Dinas Perkim Jombang
Tak hanya itu, Linda juga aktif mengantarkan berbagai prestasi siswa, di antaranya Pembina Winner Putera Batik Kabupaten Jombang 2026 dan The Best Media Sosial Putera Puteri Batik 2026. Pembimbing Juara 1 dan Harapan 2 Lomba Video Reel World Clean Up Day 2025
Mengantarkan Tim GEC meraih Juara 1 dan 2 NASDARC International Ship Design and Race Competition 2026. Mengantarkan Tim GEC meraih Juara II dan III COMET 6.0 (PPNS). Pembina Barabrava meraih Most Favorite Supporter Perbasi Cup 2025 dan Best Supporter Guk Yuk Jombang 2025.
Mengantarkan berbagai gelar di ajang Guk Yuk Jombang 2025 (Wakil IV, Inspiratif, Persahabatan, Intelegensia, hingga Yuk Inovasi Digital). Pembimbing Mas dan Mbak Smanema 2025. Pembimbing Juara III Lomba Essay Economic Competition ITEBIS PGRI Dewantara 2025. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto