Semangat RA Kartini terus hidup dalam berbagai profesi, termasuk di dunia kesehatan. Bagi apoteker RSUD Jombang, Apt Apres Syahwalia Hidayasri SFarm, Hari Kartini bukan sekadar peringatan seremonial. Tetapi momentum untuk melanjutkan perjuangan perempuan di era modern.
Perempuan kelahiran Jombang, 8 April 1993, ini menilai, makna perjuangan Kartini saat ini telah berkembang jauh. Jika dulu fokus pada akses pendidikan, kini perjuangan perempuan mencakup kesetaraan kesempatan. Kebebasan menentukan pilihan hidup. Serta melawan diskriminasi yang masih ada.
’’Hari Kartini adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Ini bukan sekadar perayaan, tapi dorongan agar perempuan semakin berdaya dan dihargai di semua bidang,’’ kata alumnus S1 Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2011 ini.
Menurutnya, perempuan saat ini harus diberi ruang dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Pembangunan akan berjalan lebih kuat jika perempuan dilibatkan secara aktif. Bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak.
Di Kabupaten Jombang, ia menilai upaya pemberdayaan perempuan dapat dilakukan melalui berbagai langkah. Di antaranya meningkatkan akses pendidikan dan keterampilan. Mendorong partisipasi ekonomi. Serta membuka peluang bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.
Penting juga menghapus stereotip yang membatasi perempuan. Sekaligus membangun lingkungan yang mendukung. Termasuk perlindungan dan kebijakan yang ramah perempuan.
’’Perempuan harus punya akses yang sama, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kesempatan berkembang. Dengan begitu, kontribusi perempuan bisa maksimal,’’ terang alumnus profesi apoteker di Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2015 ini.
Peran perempuan dalam pembangunan bangsa sangat fundamental. Dari keluarga, perempuan menjadi pendidik pertama yang membentuk karakter dan nilai generasi penerus.
’’Fondasi bangsa ada di keluarga. Perempuan punya peran besar dalam membentuk generasi yang berkualitas,’’ tandasnya. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto