Radarjombang.id - SEMANGAT RA Kartini terus hidup dalam berbagai lini kehidupan, termasuk dunia akademik. Hal itu tercermin dari sosok Rektor Universitas PGRI Jombang (UPJB), Prof Dr Dra Munawaroh MKes. Dia terus mendorong perempuan harus adaptif dan inovatif di era digital.
Perempuan kelahiran 25 November 1964 ini memaknai, Hari Kartini tidak cukup dimaknai sebagai peringatan historis semata. Lebih dari itu, diperlukan reinterpretasi nilai emansipasi dalam konteks kekinian.
’’Makna Kartini sekarang harus lebih luas dan kontekstual. Tidak hanya soal akses pendidikan, tapi juga kesetaraan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan teknologi,’’ ujar alumnus IKIP Surabaya 1985 ini.
Perempuan masa kini dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif terhadap perkembangan digital. Serta aktif menciptakan ruang yang inklusif dan berkeadilan. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan pun semakin terbuka. Tanpa meninggalkan kodrat sebagai perempuan.
Sebagai akademisi, Munawaroh menegaskan perannya dalam mendorong perempuan berdaya melalui implementasi tridarma perguruan tinggi. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi instrumen penting dalam membangun kapasitas perempuan.
’’Akademisi tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga memberdayakan. Pendidikan harus inklusif, riset harus responsif gender, dan pengabdian harus berdampak langsung bagi masyarakat,’’ tegasnya.
Ia mencontohkan, peran dosen tidak berhenti di ruang kelas. Penelitian harus menjawab kebutuhan daerah, termasuk persoalan sosial seperti stunting. Sementara pengabdian masyarakat menjadi ruang nyata untuk memberikan solusi.
Di sisi lain, Munawaroh juga menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan. Menurutnya, era teknologi menuntut perempuan tidak hanya melek informasi, tetapi juga mampu beradaptasi dan berinovasi.
’’Sekarang eranya digital. Perempuan harus bisa mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tertinggal,’’ imbuh ulmunus S2 Universitas Airlangga bidang kesehatan masyarakat 2000 ini.
Baca Juga: Student Journalism: Semangat Kartini
Dalam dunia pendidikan, ia juga terus mendorong perubahan metode pembelajaran. Model konvensional dinilai perlu dikembangkan menjadi lebih interaktif dan kontekstual.
Pendekatan seperti project based learning, problem based learning, hingga pembelajaran berbasis digital menjadi solusi agar mahasiswa lebih aktif, kritis, dan inovatif.
’’Mahasiswa jangan hanya menerima materi, tapi harus mampu berpikir dan menghasilkan karya,’’ jelas alumnus S3 Universitas Negeri Malang 2009 ini.
Sebagai akademisi, ia mendorong perempuan juga memiliki kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan. Serta berani mengambil peran di ruang-ruang strategis pembangunan.
’’Perempuan harus menjadi subyek pembangunan, bukan sekadar obyek,’’ ucap guru besar bidang pendidikan ekonomi ini. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto