Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sosok Kartini di Mata Indah Rochani: Perempuan Harus Berdaya dan Berani Memimpin

Wenny Rosalina • Selasa, 21 April 2026 | 09:02 WIB
Indah Rochani, ST
Indah Rochani, ST

 

JOMBANG – Semangat Hari Kartini dimaknai Indah Rochani, ST sebagai refleksi perubahan perjuangan perempuan dari masa ke masa. Jika dulu Raden Ajeng Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kebebasan dari keterbatasan di era penjajahan, kini perempuan dituntut berani mengambil peran lebih luas di berbagai bidang.

Perempuan kelahiran Surabaya, 16 Oktober 1980 yang berdomisili di Jl. Empu Panuluh 28 Kepanjen Jombang ini menilai, makna Kartini masa kini tidak lagi sebatas simbol kebaya dan seremoni. ”Kalau dulu perempuan berjuang untuk bisa sekolah, sekarang perjuangannya adalah bagaimana perempuan bisa menjadi pemimpin, insinyur, atau pengambil keputusan tanpa harus memilih antara karier dan keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, kesetaraan saat ini bukan hanya soal kesempatan, tetapi juga akses nyata dalam berbagai sektor, termasuk bidang STEM, politik, dan kepemimpinan. Ia juga menekankan, kesetaraan harus berjalan dua arah, termasuk mendorong laki-laki turut mengambil peran dalam pengasuhan dan pekerjaan domestik.

Ia memaknai semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebagai perubahan bentuk tantangan. Jika dulu keterbatasan akses menjadi “gelap”, kini tantangannya berupa stigma, beban ganda, hingga batasan yang terkadang diciptakan sendiri. ”Terangnya adalah saat perempuan berani melampaui semua itu dan mengambil ruang yang seharusnya bisa mereka isi,” tegasnya.

Dalam pembangunan bangsa, Indah menilai perempuan memiliki peran yang sangat strategis, khususnya di bidang pendidikan. Perempuan menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter generasi sejak usia dini. ”Perempuan itu pendidik pertama dan utama. Nilai, karakter, dan kebiasaan anak sebagian besar dibentuk di rumah, terutama di lima tahun pertama,” jelas Indah yang kini sebagai kepala seksi kelembagaan dan sarana prasarana SMP pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.

Sebelum berkiprah di bidang pendidikan, Indah memilai kariernya di Dinas PU Cipta Karya, Tata Ruang Kebersihan dan Pertanaman Jombang, kemudian ia dipercaya sebagai kasi pendataan, perencanaan, penyediaan dan pembiayaan rumah swadaya di Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Jombang, ia kemudian memegang Jawabatn fungsional teknik bangunan dan perumahan ahli muda pada Dinas Perkim Kabupaten Jombang.

Ia menambahkan, perempuan yang memiliki literasi baik, baik pendidikan, finansial, maupun digital, akan melahirkan generasi yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Kontribusi perempuan dalam pembangunan juga sangat luas, mulai dari keluarga hingga skala nasional. Dalam lingkup keluarga, perempuan berperan penting dalam menjaga kesehatan anak, mencegah stunting, hingga memastikan pendidikan anak berjalan baik. ”Ibu terdidik bisa meningkatkan peluang anak untuk sekolah lebih tinggi. Dari situlah rantai kemiskinan bisa diputus,” ungkapnya.

Baca Juga: Gelorakan Semangat Kartini, Ibu-ibu Forsid DPRD Jombang Gelar Lomba Kebaya Hingga Puisi Kartini

Menurutnya, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh laki-laki, tetapi juga sejauh mana perempuan diberi ruang untuk berkontribusi secara penuh.

Baginya, pendidikan bagi perempuan adalah hal yang sangat mendasar. Bahkan, ia menyebut pendidikan sebagai “nafas” bagi perempuan. ”Pendidikan itu kunci yang membuka semua pintu. Kalau hanya laki-laki yang sekolah, negara akan berjalan pincang,” tegasnya.

Indah sendiri memulai pendidikannya di SDN Ngroto 1 Kecamatan Pujon Malang, kemudian melanjutkan di SMPN Tajinan Malang, kemudian ke MAN Malang 2 Batu, kemudian di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Ia menambahkan, perempuan berpendidikan tidak hanya mampu mengurus rumah tangga, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, mengelola keuangan, hingga mendidik anak dengan lebih baik. ”Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu bangsa,” tambahnya.

Ke depan, ia berharap perempuan semakin berani bermimpi besar tanpa merasa harus meminta maaf atas pilihan hidupnya. ”Perempuan bisa menjadi apa saja, tanpa harus merasa bersalah karena menjadi perempuan,” pungkasnya. (wen/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#indah rochani #sosok kartini #Jombang #sosok