Semangat Raden Ajeng Kartini tak pernah padam. Hanya wujudnya yang berubah. Jika dulu melawan keterbatasan di masa penjajahan, kini perjuangan itu hadir di ruang-ruang kelas, membebaskan generasi dari kebodohan. Nilai itulah yang dipegang Itha Pujiarti, S.S., M.Pd., Kepala SMKN Gudo. Baginya, peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk melanjutkan cita-cita melalui pendidikan.
“Semangat Kartini di masa kini bukan lagi tentang perjuangan fisik seperti di era penjajahan, melainkan bagaimana memerdekakan generasi dari kebodohan, baik secara intelektual maupun mental,” tandasnya.
Ia menegaskan, peran guru hari ini adalah garda depan perjuangan tersebut. Bersama para pendidik, ia mengaku memiliki tanggung jawab besar mencerdaskan anak bangsa. ”Kami mungkin tidak berjuang seperti di masa penjajahan, tapi saya berjanji untuk melanjutkan cita-cita Ibu Kartini, bersama bapak ibu guru memerdekakan anak-anak didik dari kebodohan,” ujarnya.
Perempuan kelahiran Jombang, 28 Januari 1978 itu juga menyoroti pentingnya kemandirian perempuan. Menurutnya, kemandirian bukan sekadar berdiri sendiri, tetapi mencakup kesiapan dalam berbagai aspek kehidupan. ”Perempuan mandiri adalah yang siap, punya ilmu, dan berakhlak. Itu harus ditanamkan sejak awal,” tegasnya.
Bagi Itha, pendidikan menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam memimpin. Ilmu, kata dia, adalah penunjuk arah sekaligus benteng dari kesalahan.
Baca Juga: Student Journalism: Semangat Kartini
Tak hanya melalui jalur formal, perempuan juga perlu terus belajar dari berbagai sumber. Mulai dari nilai agama, keluarga, lingkungan, hingga tokoh inspiratif. ”Seminar dan lingkungan positif menjadi ruang penting untuk bertumbuh,” bebernya.
Di sisi lain, perannya sebagai ibu tak pernah ditinggalkan. Bersama suaminya, Fatchul Muqorrobin, ia membangun keluarga dengan nilai agama sebagai dasar. Ia percaya, keteladanan adalah pendidikan pertama bagi anak. ”Seorang ibu harus menjadi contoh terbaik sebelum anak mengenal dunia luar,” ungkapnya.
Kehangatan keluarga ia hadirkan lewat hal sederhana. Dari dapur rumah, tersaji lalapan lele dengan sambal terasi—menu favorit keluarga serta aneka jus buah yang selalu tersedia.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa, terutama melalui pendidikan. Dengan terus mengasah diri dan adaptif terhadap perkembangan zaman, perempuan mampu mencerdaskan generasi sekaligus membentuk karakter anak bangsa. Ia pun berharap, semangat Kartini terus hidup dalam diri perempuan masa kini. ”Perempuan harus kuat, hebat, dan tetap bahagia dalam menjalani kehidupannya.” Tandas Itha. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto